This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

3/07/2011

KARYA ILMIAH MASALAH GLOBAL WARMING


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
 
Semenjak manusia pada jaman purbakala sampai dengan jaman sekarang, manusia telah mengalami perkembangan dalam setiap periode waktu yang dilewatinya yang telah kita kenal dengan berbagai jaman seperti jaman meolitikum, neolitikum. Peradaban manusia telah mengalami kemajuan sampai sekarang. Selama perkembangan itu, manusia menjalani kehidupan bergantung pada pertanian dan agrikultur. Dengan orientasi kehidupan tersebut, manusia selalu berusaha menjaga dan melestarikan lingkungannya dengan sebaik-baiknya yang bertujuan untuk menjaga kelangsungan hidup manusia pula. Dan pada saatnya, perkembangan manusia telah mengalami jaman revolusi industri yang menggantungkan kehidupan manusia pada bidang perindustrian. Dengan orientasi hidup tersebut, dunia agrikultur pun mengalami kemunduran perlahan-lahan.
Nilai-nilai kehidupan manusia pun mengalami perubahan, terutama dalam interaksi manusia dengan lingkungannya. Perubahan-perubahan yang terjadi ini menghasilkan dampak baik positif maupun negatif. Salah satu dampak revolusi industri yang telah terjadi dan masih terus berlanjut pada masa sekarang dalam kehidupan dan peradaban manusia adalah dampaknya bagi lingkungan yang ada di sekitar manusia itu sendiri. Ekspansi usaha yang dilakukan oleh para pelaku industri seperti pembangunan pabrik-pabrik dan pembuatan produksi dengan kapasitas besar dengan mengesampingkan perhatian terhadap dampaknya bagi lingkungan secara perlahan namun pasti telah mengakibatkan kelalaian yang pada akhirnya akan merugikan lingkungan tempat tinggal manusia serta manusia dan kehidupannya.
Para ahli lingkungan telah menemukan indikasi adanya dampak yang terbesar bagi lingkungan dan dunia secara global akibat usaha perindustrian yang dilakukan dan telah berkembang pesat ini. Dampak negatif ini adalah terjadinya pemanasan di dunia dan sering disebut sebagai Global Warming.
Namun, masalah Global Warming sebagai masalah lingkungan ini masih diperdebatkan kebenarannya oleh beberapa pihak yang menganggap Global Warming adalah alasan yang diciptakan untuk membatasi laju perkembangan perindustrian. Walaupun masih terdapat perdebatan mengenai kebenaran keadaan Global Warming di antara para ahli lingkungan tersebut, namun masalah Global Warming ini tidaklah dapat dipungkiri untuk diteliti dan ditelaah lebih lanjut demi kelangsungan kehidupan manusia. Untuk itu, Karya Ilmiah yang dibuat ini akan memperlihatkan dan menjelaskan kebenaran mengenai masalah pemanasan Global ini dengan berdasarkan berbagai sumber yang terpercaya dan kompeten.

1.2            Permasalahan

Dimulai dari jaman revolusi industri, konsentrasi gas karbon dioksida di atmosfer telah meningkat hampir sebesar 30 %, konsentrasi gas metan meningkat hampir dua kali lipat, dan konsentrasi NO2 berkurang sekitar 15 %. Peningkatan gas-gas ini menyebabkan kemampuan atmosfer untuk menahan panas menjadi lebih besar. Sulfat aerosol, yaitu polutan udara yang umum ditemui, mendinginkan atmosfer dengan merefleksikan kembali radiasi cahaya dari matahari ke luar angkasa. Tetapi senyawa sulfat ini mempunyai siklus umur yang pendek di atmosfer. Mengapa konsentrasi gas efek rumah kaca dapat meningkat? Para ilmuwan berasumsi bahwa pembakaran dari bahan bakar fosil dan beberapa aktifitas manusia yang memicu dan menjadi penyebab utama meningkatnya konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. Respirasi dari tanaman dan proses dekomposisi bahan organic melepaskan karbon diokasida sepuluh kali lebih banyak dari yang mampu dihasilkan oleh aktifitas manusia, tetapi selama berabad-abad pelepasan karbon diokasida ini diimbangi dengan penyerapan karbon dioksida oleh vegetasi terestial dan laut. Yang menyebabkan keseimbangan ini terganggu adalah adanya pelepasan tambahan yang disebabkan oleh aktifitas manusia. Bahan bakar fosil dibakar sebagai sumber energi untuk menggerakan hampir seluruh peralatan manusia. Meningkatnya kegiatan agricultural, penggundulan hutan, dibukanya area kosong sebagai tempat pembuangan, produksi industri, dan pertambangan juga meningkatkan emisi dengan bagian yang cukup signifikan.

Untuk meramalkan tingkat emisi yang akan terjadi di masa depan merupakan suatu tugas yang sulit, karena hal itu bergantung kepada keadaan demografi, ekonomi, teknologi, peraturan dan perkembangan institusi. Beberapa peramalan telah dilakukan, dan hasilnya memproyeksikan bahwa pada tahun 2100, konsentrasi karbon dioksida akan meningkat sebesar 30% hingga 150% dari jumlah sekarang.

1.3            Tujuan

Tujuan secara umum adalah untuk mengetahui sejauh manakah pemanasan Global ini telah terjadi? dan penyebab pastinya apa? Semua ini masih merupakan tanda Tanya bagi manusia. Karena sampai sekarang manusia belum mendapatkan penyebab pasti dari pemanasan Global ini dan manusia juga mau mencari kebenaran mengenai efek dari pemanasan Global yang akan dialami oleh manusia sendiri, makhluk hidup maupun lingkungan disekitarnya. Jika pemanasan Global ini terjadi maka efek yang ditimbulkan bukan hanya di alami oleh manusia saja tetapi juga semua makhluk hidup di sekitarnya, seperti meningkatnya suhu di permukaan bumi menyebabkan kekeringan, dengan demikian akibat dari kekeringan ini selain dialami manusia juga oleh hewan dan tumbuhan dimana tumbuhan akan menjadi layu karena kekurangan air atau dan sebagainya.
Oleh karena itu melalui karya ilmiah ini diharapkan agar manusia dapat lebih mencegah aktivitas yang dapat menyebabkan terjadinya pemanasan Global seperti mengadakan kegiatan pembakaran zat-zat yang dapat menyebabkan suhu di permukaan bumi meningkat, dan lain-lain.






BAB II
PEMBAHASAN
Pertanyaan kita di sini adalah apakah pemanasan global atau global warming itu sesungguhnya? Lalu apa yang menyebabkan terjadinya global warming? Jika global warming terjadi, apa dampak yang akan ditimbulkan? Dan langkah apa saja yang harus kita lakukan dalam mencegah percepatan global warming? Kita akan membahasnya pada bab ini.
1.1       Pengertian Global Warming

Global Warming atau Pemanasan Global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 + 0.18oC (1.33 + 0.32oF) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia” melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukaakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 oC (2.0 hingga 11.5 oF) antara tahun 1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan scenario-scenario berbeda mengenai gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari 1000 tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.

Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah lain. Hingga saat ini masih terjadinya perdebatan politik dan public di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurahan emisi gas-gas rumah kaca.

1.2         Penyebab Terjadinya Global Warming

Adapun penyebab - penyebab terjadinya global warming atau pemanasan global adalah:


1.    Efek Rumah Kaca
          
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba di permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca, antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga megakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Gas-gas tersebut berfungsi seagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan demikian meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.

Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperature rata-rata sebesar 15 oC (59 oF), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 oC (59 oF) dari temperaturnya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 oC sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.
2.   Efek Umpan Balik

Penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat). Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.

Efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya menghasilkan pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.
Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan. Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan.
Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif. Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah.



2.             Variasi Matahari

Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.

Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh. Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada decade - dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.

Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat “keterangan” dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat “keterangannya” selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan global. Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis

3.        Peternakan (Konsumsi Daging)

Dalam laporan terbaru, Fourth Assessment Report, yang dikeluarkan oleh IPCC, satu badan PBB yang terdiri dari 1.300 ilmuwan dari seluruh dunia, terungkap bahwa 90% aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir inilah yang membuat planet kita semakin panas. Sejak Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida beranjak naik mulai dari 280 ppm menjadi 379 ppm dalam 150 tahun terakhir. Tidak main-main, peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer Bumi itu tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir! IPCC juga menyimpulkan bahwa 90% gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, khususnya selama 50 tahun ini, telah secara drastis menaikkan suhu Bumi. Sebelum masa industri, aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan gas rumah kaca, tetapi pertambahan penduduk, pembabatan hutan, industri peternakan, dan penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan gas rumah kaca di atmosfer bertambah banyak dan menyumbang pada pemanasan global.

Penelitian yang telah dilakukan para ahli selama beberapa dekade terakhir ini menunjukkan bahwa ternyata makin panasnya planet bumi dan berubahnya sistem iklim di bumi terkait langsung dengan gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktifitas manusia.
Khusus untuk mengawasi sebab dan dampak yang dihasilkan oleh pemanasan global,
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) membentuk sebuah kelompok peneliti yang disebut dengan International Panel on Climate Change (IPCC).
Setiap beberapa tahun sekali, ribuan ahli dan peneliti-peneliti terbaik dunia yang tergabung dalam IPCC mengadakan pertemuan untuk mendiskusikan penemuan-penemuan terbaru yang berhubungan dengan pemanasan global, dan membuat kesimpulan dari laporan dan penemuan- penemuan baru yang berhasil dikumpulkan, kemudian membuat persetujuan untuk solusi dari masalah tersebut .
Salah satu hal pertama yang mereka temukan adalah bahwa beberapa jenis gas rumah kaca bertanggung jawab langsung terhadap pemanasan yang kita alami, dan manusialah kontributor terbesar dari terciptanya gas-gas rumah kaca tersebut. Kebanyakan dari gas rumah kaca ini dihasilkan oleh peternakan, pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, pabrik-pabrik modern, pembangkit tenaga listrik, serta pembabatan hutan. Tetapi, menurut Laporan PBB tentang peternakan dan lingkungan yang diterbitkan pada tahun 2006 mengungkapkan bahwa, “industri peternakan adalah penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar (18%), jumlah ini lebih banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh transportasi di seluruh dunia (13%)”.
Hampir seperlima (20%) dari emisi karbon berasal dari peternakan. Jumlah ini melampaui jumlah emisi gabungan yang berasal dari semua kendaraan di dunia! Sektor peternakan telah menyumbang 9% karbon dioksida, 37% gas metana (mempunyai efek pemanasan 72 kali lebih kuat dari CO2 dalam jangka 20 tahun, dan 23 kali dalam jangka 100 tahun), serta 65% dinitrogen oksida (mempunyai efek pemanasan 296 kali lebih lebih kuat dari CO2). Peternakan juga menimbulkan 64% amonia yang dihasilkan karena campur tangan manusia sehingga mengakibatkan hujan asam. Peternakan juga telah menjadi penyebab utama dari kerusakan tanah dan polusi air. Saat ini peternakan menggunakan 30% dari permukaan tanah di Bumi, dan bahkan lebih banyak lahan serta air yang digunakan untuk menanam makanan ternak.

Menurut laporan Bapak Steinfeld, pengarang senior dari Organisasi Pangan dan Pertanian, Dampak Buruk yang Lama dari Peternakan – Isu dan Pilihan Lingkungan (Livestock’s Long Shadow-Environmental Issues and Options), peternakan adalah “penggerak utama dari penebangan hutan …. kira-kira 70 persen dari bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi lading ternak”. Selain itu, ladang pakan ternak telah menurunkan mutu tanah. Kira-kira 20% dari padang rumput turun mutunya karena pemeliharaan ternak yang berlebihan, pemadatan, dan erosi. Peternakan juga bertanggung jawab atas konsumsi dan polusi air yang sangat banyak.
Di Amerika Serikat sendiri, trilyunan galon air irigasi digunakan untuk menanam pakan ternak setiap tahunnya. Sekitar 85% dari sumber air bersih di Amerika Serikat digunakan untuk itu. Ternak juga menimbulkan limbah biologi berlebihan bagi ekosistem.
Konsumsi air untuk menghasilkan satu kilo makanan dalam pertanian pakan ternak di Amerika Serikat
1 kg Air (Liter)
Daging Sapi           : 1.000.000
Daging Babi           : 3.260
Daging Ayam         : 12.665
Kedelai                   : 2.000
Beras                      : 1.912
Kentang                  : 500
Gandum                 : 200
Slada                      : 180
Selain kerusakan terhadap lingkungan dan ekosistem, tidak sulit untuk menghitung bahwa industri ternak sama sekali tidak hemat energi. Industri ternak memerlukan energi yang berlimpah untuk mengubah ternak menjadi daging di atas meja makan orang. Untuk memproduksi 1kg daging, telah menghasilkan emisi karbon dioksida sebanyak 36,4 kilo. Sedangkan untuk memproduksi satu kalori protein, kita hanya memerlukan dua kalori bahan bakar fosil untuk menghasilkan kacang kedelai, tiga kalori untuk jagung dan gandum; akan tetapi memerlukan 54 kalori energi minyak tanah untuk protein daging sapi!

Itu berarti kita telah memboroskan bahan bakar fosil 27 kali lebih banyak hanya untuk membuat hamburger daripada konsumsi yang diperlukan untuk membuat hamburger dari kacang kedelai!
Dengan menggabungkan biaya energi, konsumsi air, penggunaan lahan, polusi lingkungan, kerusakan ekosistem, tidaklah mengherankan jika satu orang berdiet daging dapat memberi makan 15 orang berdiet tumbuh-tumbuhan atau lebih.  Marilah sekarang kita membahas apa saja yang menjadi sumber gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Anda mungkin penasaran bagian mana dari sektor peternakan yang menyumbang emisi gas rumah kaca.
Berikut garis besarnya menurut FAO :
 1. Emisi karbon dari pembuatan pakan ternak
     a.  Penggunaan bahan bakar fosil dalam pembuatan pupuk menyumbang 41 juta ton CO2 setiap tahunnya
     b. Penggunaan bahan bakar fosil di peternakan menyumbang 90 juta ton CO2 per tahunnya (misal diesel atau LPG)
      c.  Alih fungsi lahan yang digunakan untuk peternakan menyumbang 2,4 milyar ton CO2 per tahunnya, termasuk di sini lahan yang diubah untuk merumput ternak, lahan yang diubah untuk menanam kacang kedelai sebagai makanan ternak, atau pembukaan hutan untuk lahan peternakan
       d.  Karbon yang terlepas dari pengolahan tanah pertanian untuk pakan ternak (misal jagung, gandum, atau kacang kedelai) dapat mencapai 28 juta CO2 per tahunnya. Perlu Anda ketahui, setidaknya 80% panen kacang kedelai dan 50% panen jagung di dunia digunakan sebagai makanan ternak.
       e.  Karbon yang terlepas dari padang rumput karena terkikis menjadi gurun menyumbang 100 juta ton CO2 per tahunnya

2. Emisi karbon dari sistem pencernaan hewan :
a. Metana yang dilepaskan dalam proses pencernaan hewan dapat mencapai 86 juta ton per tahunnya.
b. Metana yang terlepas dari pupuk kotoran hewan dapat mencapai 18 juta ton per tahunnya.
3. Emisi karbon dari pengolahan dan pengangkutan daging hewan ternak ke konsumen :
a. Emisi CO2 dari pengelolaan daging dapat mencapai puluhan juta ton per tahun..
b. Emisi CO2 dari pengangkutan produk hewan ternak dapat mencapai lebih dari 0.8juta ton per tahun.
Dari uraian di atas, Kita bisa melihat besaran sumbangan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari tiap komponen sektor peternakan. Di Australia, emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan lebih besar dari pembangkit listrik tenaga batu bara. Dalam kurun waktu 20 tahun, sektor peternakan Australia menyumbang 3 juta ton metana setiap tahun (setara dengan 216 juta ton CO2), sedangkan sektor pembangkit listrik tenaga batu bara menyumbang 180 juta ton CO2 per tahunnya.

Tahun lalu, penyelidik dari Departemen Sains Geofisika (Department of Geophysical Sciences) Universitas Chicago, Gidon Eshel dan Pamela Martin, juga menyingkap hubungan antara produksi makanan dan masalah lingkungan. Mereka mengukur jumlah gas rumah kaca yang disebabkan oleh daging merah, ikan, unggas, susu, dan telur, serta membandingkan jumlah tersebut dengan seorang yang berdiet vegan.
Mereka menemukan bahwa jika diet standar Amerika beralih ke diet tumbuh-tumbuhan, maka akan dapat mencegah satu setengah ton emisi gas rumah kaca ektra
per orang per tahun. Kontrasnya, beralih dari sebuah sedan standar seperti Toyota Camry ke sebuah Toyota Prius hibrida menghemat kurang lebih satu ton emisi CO2.
1.3           Dampak Global Warming

Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.
1.       Iklim Mulai Tidak Stabil

Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.

Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air).
Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
2.       Peningkatan Permukaan Laut

Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi. Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35inchi) pada abad ke-21.
Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai. Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.
3.       Suhu Global Cenderung Meningkat

Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.
4.       Gangguan Ekologis

Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.
5. Dampak Sosial dan Politik


a. Perubahan Cuaca dan Lautan
           

 Dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.

b. Pergeseran Ekosistem

Dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Seperti meningkatnya kejadian Demam Berdarah karena munculnya ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak. Dengan adamya perubahan iklim ini maka ada beberapa spesies vektor penyakit (eq Aedes Agipty), Virus, bakteri, plasmodium menjadi lebih resisten terhadap obat tertentu yang target nya adala organisme tersebut. Selain itu bisa diprediksi kan bahwa ada beberapa spesies yang secara alamiah akan terseleksi ataupun punah dikarenakan perbuhan ekosistem yang ekstreem ini. hal ini juga akan berdampak perubahan iklim (Climat change)yang bis berdampak kepada peningkatan kasus penyakit tertentu seperti ISPA (kemarau panjang / kebakaran hutan, DBD Kaitan dengan musim hujan tidak menentu)
Gradasi Lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi pada waterborne diseases dan vector-borne disease. Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit saluran pernafasan seperti asma, alergi, coccidiodomycosis, penyakit jantung dan paru kronis, dan lain-lain.
1.4       Langkah-Langkah dalam Mencegah Percepatan Global Warming

Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya pemanasan global, mungkin kata mencegah sudah terlambat karena itu sudah terjadi. Tapi setidaknya kita dapat mengurangi hal-hal yang dapat mengakibatkannya :
   
a) Melakukan reboisasi pada hutan gundul ataupun di sekitar rumah kita.
b) Mengurangi adanya kendaraan bermotor dan hal-hal yang   menyebabkan polusi udara.
c) Menjaga kebersihan lingkungan, seperti membuang sampah pada tempatnya.
d) Mengurangi pemakaian alat kosmetik yang mengandung bahan kimia yang berbahaya.
e) Menjadikan Bahan Makanan sebagai Bahan Bakar. Dengan bahasa gampangnya konversi bahan bakar dengan biofuel. Seperti yang pernah saya baca di majalah apa gitu saat ini jagung dapat digunakan untuk menghasilkan biofuel (setiap bahan bakar baik padatan, cairan ataupun gas yang dihasilkan dari bahan-bahan organic, src : wikipedia). Hal ini dikembangkan dinegara yang jauh disana, apalagi ada pendapat terbaru yang menyatakan bahwa sekam dari jagung jauh lebih baik untuk menghasilkan biofuel. Biofuel ini di Indonseia mulai dikembangkan dari Ubi.
f) Get Blueprints For a Green House. Jadi ada aturan buat green house yang bener itu gimana sehingga fungsi-fungsi lingkungan bisa tetap terjaga. Mungkin seperti itu.
g) Change Your Lightbulbs hal ini menyebabkan perpendaran cahaya yang memungkinkan pemborosan terhadap energi listrik yang digunakan.
     h) Gunakan Lampu yang lebih ramah lingkungan untuk penerangan jalan, tempat-tempat umum, bahkan sampai ke rumah-rumah, misalnya menggunakan lampu LED.
      i) Memberlakukan pajak untuk pengeluaran Karbon. Skenario yang dapat dilakukan diantaranya adalah membatasi emisi gas karbon yang dikeluarkan oleh setiap industri. Jika sebuah Industri mengeluarkan gas karbon kurang dari standar yang ditetapkan maka industri tersebut dapat menjual sisa karbon yang menjadi haknya. Sedangkan jika Industri yang mengeluarkan gas karbon melebihi batas yang ditentukan maka industri tersebut harus membayar ke pasar berapa kelebihan gas karbon yang dikeluarkan ke pasar. Hal ini akan memicu persaingan untuk menekan emisi karbon ke udara.
      j) Hilangkan Rumah Besar. Dapat diusahakan untuk membangun rumah dengan ukuran yang lebih kecil. Karena rumah yang besar akan memerlukan asupan energi yang lebih banyak untuk mendinginkan atau menghangatkan ruangan.

Adapula tips langkah-langkah berhemat sekaligus mencegah percepatan global warming adalah sebagai berikut :
1. Terus Mencari Bahan Bakar Terbaru

Warga Kampung Karang Tengah di Lereng Gunung Salamet, Banyumas, tak pernah mengeluh ketika PLN tidak pernah berniat memasang listrik di kampong mereka. Wargapun “mengamuk” dengan merakit sendiri sebuah kincir air yang mampu mengalirkan listrik bagi 50 rumah di sana sejak 14 tahun lalu. Warga Krapyak IX di Yogyakarta nekat memanfaatkan limbah tahu untuk digunakan memanaskan kompor mereka. Mereka juga menanam jarak untuk mengganti minyak tanah dan memasang kincir air sebagai pengganti PLN yang tak pernah hadir. Sebuah kampong nelayan di Gunung Kidul bergotong-royong membeli panel surya untuk menerangi rumah mereka saat malam tiba.
Sudah saatnya bahan bakar minyak makin tidak terjangkau kantong, bangsa kita
menoleh pada sumber energi berlimpah yang ada. Kita memimpikan Bapak Presiden memberi contoh dengan memasang pembangkit listrik kincir air di hulu sungai Cikeas daripada menyibukkan diri dengan mimpi Blue Energy. Sudah banyak inisiatif masyarakat tanpa kontribusi pemerintah, seharusnya ini bisa memuka inisiatif pembuat kebijakan agar semakin memberi prioritas bagi pengembangan sumber energi terbaru..
2.       Mengurangi konsumsi energi
         
PLN mengeluh bahwa kapasitas mereka tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan kita, hmm pasti ada cara. Mengganti bola lampu biasa dan neon biasa dengan lampu CFL (compact fluorescent lightbulb) dapat mengurangi tagihan listrik bulanan. Lampu CFL 7 watt terangnya setara bola lampu 40 watt, artinya kita hanya mengkonsumsi listrik seperlima dari biasanya. Menutup pintu ketika AC dinyalakan juga dapat mengurangi konsumsi listrik dari setelan AC anda. Konsumsi listrik yang makin hemat artinya kita tidak memberi alasan pada PLN untuk melakukan pemadaman bergilir, selamanya!

3.       Mintalah pemerintah mengganti lampu kota dengan lampu LED

Sebuah kota di Amerika mencoba mengganti semua lampu di garasi dari bolam biasa menjadi lampu LED, apa hasilnya? sekarang semua lampu dikota itu diganti dengan lampu LED. Lampu ini menghemat energi listrik antara 40 – 70 %, jauh lebih terang dan memiliki umur 5 kali lebih lama daripada bola biasa. Ingatkan pemerintah, uang mereka dari pajak rakyat jadi mintalah mereka berhemat dalam memakai listrik (dan sekali lagi jangan biarkan PLN punya alasan untuk melakukan pemadaman).
4. Gunakan mobil pribadi seperlunya

Jalur pejalan kaki dan pesepeda, buat pemerintah meniru hal ini. Bus itu panas, bau, sesak dan tidak punya jadwal, toh jauh lebih banyak orang indonesia yang memanfaatkan transportasi publik dibanding mobil pribadi, kita ingin merakyat bukan? Selain bus, ada sepeda, ada kereta dan tentu saja kaki. Tanyakan hal ini pada dokter manapun, “Benarkah jalan kaki dan bersepeda bisa membantu kesehatan badan dan juga anggaran?” saya jamin mereka setuju. Mintalah wakil rakyat dan pemerintah membuat proyek untuk memperbaiki trotoar supaya jalan kaki itu nyaman, dan membuat jalur khusus sepeda supaya aman. Dengan mengurangi penggunaan mobil pribadi kita bisa menabung, membantu mengurangi polusi.
5.       Bayarlah tagihan Anda secara online dari rumah atau ATM terdekat

Keamanan sistem perbankan online nasional mungkin belum sempurna dan untuk sementara kita masih takut memanfaatkannya secara optimal. Namun secara logika, melakukan pembayaran bermacam tagihan (kartu kredit, tiket pesawat/kereta, telpon, PDAM, PLN, pajak dll) melalui internet dapat menghemat penggunaan jutaan lembar kertas, jutaan liter bahan bakar untuk kendaraan yang mengantar kita menuju loket pembayaran, serta bahan bakar untuk kendaraan yang mengantarkan formulir tagihan dari kantor cabang ke kantor pusat.
Paling tidak bayarlah lewat ATM terdekat jika Anda masih ketakutan melakukan transaksi lewat internet, bila perlu gunakan sepeda atau berjalan kaki sampai ke ATM. Beberapa merchant juga menawarkan sistem penagihan lewat email dan bukan surat, manfaatkanlah. Ini adalah era paperless, untuk apa anda punya komputer atau komunikator canggih?
6.       Periksalah sebelum membeli

Pada beberapa peralatan elektronik, anda mulai sering menemukan stiker berlogo bintang hijau dan tulisan “Energy Star Appliances“, logo ini memiliki makna peralatan tersebut telah lulus sertifikasi hemat energi. Alat ini lebih sedikit “memakan” listrik. Pilihlah peralatan ini jika anda sedang memilih alternatif diantara dua alat. Sebuah penelitian menyebutkan peralatan yang lulus uji konsumsi energi akan menghemat tagihan listrik sampai sepertiganya. Jika anda memilih kendaraan bermotor, pasti anda juga akan lebih memprioritaskan mobil/ motor yang lebih irit bahan bakar bukan?
7.       Kurangi makan steak daging

Makan daging membuat kita makin miskin harta, kaya kolesterol juga bikin gerah.
8.       Rajinlah belanja di pasar terdekat

Selain kita akan lebih sering berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar kita, berbelanja dipasar lokal juga akan lebih bermanfaat untuk para petani dan pedagang disekitar kita. Selain lebih murah juga lebih menyenangkan, mengurangi jatah servis kendaraan bermotor dan mengurangi anggaran BBM. Satu lagi hadiahnya, kita juga akan mengurangi kemacetan di jalan dan mengurangi “nafsu” para pejabat yang ingin mendirikan puluhan mal disebuah kota kecil.
9.       Jangan biarkan peralatan elektronik dalam keadaan standby

Hampir semua peralatan elektronik kita memiliki mode standby, dan kita akan membiarkan TV, komputer, PS, sound system kita dalam keadaan standby semalaman. Tahukah Anda bahwa mode standby ini memiliki banyak resiko? Pertama, resiko kebakaran. Kedua adalah saat dalam posisi standby diam-diam peralatan ini akan tetap mengkonsumsi listrik. Sebuah TV mengkonsumsi listrik sebanyak 11 watt (tipikal) selama standby. Sebuah penelitian di Amerika menyatakan, total energi listrik yang dihasilkan semua peralatan elektronik dalam posisi standby di Amerika selama tahun 2005 adalah 64 Juta Watt Jam. Penulis yakin jika semua rumah tangga di Indonesia mencabut colokan TV dan sistem audio saat mereka tidur, lagi-lagi PLN akan kehabisan alasan untuk melakukan pemadaman bergilir.



BAB III
PENUTUP
1.1  Kesimpulan

Berdasarkan dari apa yang telah diuraikan pada bab - bab sebelumnya, maka pada bab ini akan dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
a) Pemanasan Global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
b) Penyebab-penyebab terjadinya global warming atau pemanasan global adalah :
           1. Efek Rumah Kaca
           2. Efek Umpan Balik
           3. Variasi Matahari
           4. Peternakan (Konsumsi Daging)
c) Dampak-dampak terjadinya pemanasan global adalah :
           1. Iklim Mulai Tidak Stabil
           2. Peningkatan Permukaan Laut
           3. Suhu Global Cenderung Meningkat
           4. Gangguan Ekologis
           5. Dampak Sosial dan Politik
                    A. Perubahan cuaca dan lautan
                    B. Pergeseran ekosistem

d) Langkah-langkah dalam Mencegah Percepatan Global Warming
     1. Melakukan reboisasi pada hutan gundul ataupun di sekitar rumah kita.
2. Mengurangi adanya kendaraan bermotor dan hal-hal yang menyebabkan polusi udara.
3. Menjaga kebersihan lingkungan, seperti membuang sampah pada tempatnya.
4. Mengurangi pemakaian alat kosmetik yang mengandung bahan kimia yang berbahaya.
5. Menjadikan Bahan Makanan sebagai Bahan Bakar.
6. Get Blueprints For a Green House.
7. Gunakan Lampu yang lebih ramah lingkungan untuk penerangan jalan, tempat-tempat umum, bahkan sampai ke rumah-rumah
8. Memberlakukan pajak untuk pengeluaran Karbon
9. Hilangkan Rumah Besar
10. Terus Mencari Bahan Bakar Terbaru
11. Mengurangi konsumsi energi
12. Mintalah pemerintah mengganti lampu kota dengan lampu LED
13. Gunakan mobil pribadi seperlunya
14. Bayarlah tagihan Anda secara online dari rumah atau ATM terdekat
15. Periksalah sebelum membeli
16. Kurangi makan steak daging
17. Rajinlah belanja di pasar terdekat
18. Jangan biarkan peralatan elektronik dalam keadaan standby



DAFTAR PUSTAKA

1. www.sobatbaru.blogspot.com
2. www.mcarmand.co.cc
3. http://www.wikimu.com/news/DisplayNewes.aspx?id=4968
4. www.buletinlitbang.dephan.go.id
5. www.vagamec.blog.com
6.http://bappenda.makassar.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=99&Itemid=67
7. http://pilonsloemoet.blogspot.com/2008/01/cara-mencegah-global-warming_07.html
8. http://www.time.com/time/specials/2007/environment/article/
9. http://kata-kata.com/2008/09/12/tips-langkah-berhemat-sekaligus-mencegah-global-warming-1/
10. http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global
11. http://yudhim.blogspot.com/2009/02/contoh-karya-tulis-global-warming.html


download selengkapnya  disini

3/06/2011

PEMANFAATAN SAMPAH SEBAGAI PUPUK CAIR ORGANIK UNTUK PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN TANAMAN

PEMANFAATAN SAMPAH SEBAGAI PUPUK CAIR ORGANIK UNTUK PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN TANAMAN



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aktifitas manusia dalam memanfaatkan alam selalu meninggalkan sisa yang dianggapnya sudah tidak berguna lagi sehingga diperlakukanya sebagai barang buangan yang disebut sampah. Sampah secara sederhana diartikan sebagai sampah organik dan anorganik yang dibuang oleh masyarakat dari berbagai lokasi di suatu daerah. Sumber sampah umumnya berasal dari perumahan dan pasar. Sampah menjadi masalah penting untuk kota yang padat penduduknya. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah volume sampah yang sangat besar sehingga melebihi kapasitas daya tampung tempat pembuangan sampah akhir (TPA), pengelolaan sampah dirasakan tidak memberikan dampak positif kepada lingkungan, dan kuranganya dukungan kebijakan dari pemerintah, terutama dalam memanfaatkan produk sampingan dari sampah yang menyebabkan tertumpuknya produk tersebut di tempat pembuangan akhir (TPA).

Permasalahan sampah merupakan hal yang krusial. Bahkan, dapat diartikan sebagai masalah kultural karena dampaknya mengenai berbagai sisi kehidupan, terutama di kota besar. Berdasarkan perkiraan, volume sampah yang dihasilkan oleh manusia rata-rata sekitar 0,5 kg/perkapita/hari,sehingga untuk kota besar seperti Jakarta yang memiliki penduduk sekitar 10 juta orang menghasilkan sampah sekitar 5000 ton/hari. Bila tidak cepat ditangani secara benar, maka kota-kota besar tersebut akan tenggelam dalam timbunan sampah berbarengan dengan segala dampak negatif yang ditimbulkannya seperti pencemaran air, udara, tanah, dan sumber penyakit. Pada pengolahan sampah tidak ada teknologi tanpa meninggalkan sisa. Oleh sebab itu, pengolahan sampah membutuhkan lahan sebagai tempat pembuangan akhir (TPA).

Sampah sebagai barang yang memiliki nilai tidak seharusnya diperlakukan sebagai barang yang menjijikan, melainkan harus dapat dimanfaatkan sebagai bahan mentah atau bahan yang berguna lainnya.Pengolahan sampah harus dilakukan dengan efisien dan efektif, yaitu sedekat mungkin dengan sumbernya, seperti RT/RW, sekolah, rumah tangga sehingga jumlah sampah dapat dikurangi. Sampah merupakan sumber daya alam yang sangat besar, apabila kita dapat memanfaatkannya dengan baik. Pada sekolah kami “SMART Ekselensia Indonesia” dimana para siswanya di asramakan memiliki jumlah sampah yang lumayan besar, sehingga diperlukan penanganan sampah yang baik dan benar. Oleh karena itu perlu melalui proses daur ulang secara organik untuk menghasilkan produk pupuk yang sangat penting sebagai unsur hara untuk kesuburan tanah dan perkembangan tanaman.Pengelolaan sampah diantaranya dapat dimanfaatkan menjadi pupuk cair organik yang didalamnya terkandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman, perbaikan struktur tanah dan zat yang dapat mengurangi bakteri yang merugikan dalam tanah. Pupuk organik biasanya tidak meninggalkan residu / sisa dalam tanaman sehingga hasil tanaman akan aman bila dikonsumsi.
B. Tujuan Karya Ilmiah
Tujuan dari karya ilmiah ini adalah menemukan pengelolaan sampah yang baik sebagai proses daur ulang sampah untuk menghasilkan pupuk cair organik yang berkualitas sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman bagi kelangsungan hidupnya


C. Manfaat Karya Ilmiah
Karya ilmiah ini diharapkan dapat memberikan informasi dibidang lingkungan hidup dan dapat memanfaatkan sampah di lingkungan sekolah SMART Ekselensia Indonesia, Bumi Pengembangan Insani sebagai bahan organik untuk dijadikan pupuk cair organik bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.


D. Metode Karya Ilmiah
Metode yang digunakan pada karya ilmiah ini adalah proses pembuatan pupuk cair organik dengan cara fermentasi tanpa bantuan sinar matahari atau berlangsung secara anaerob ( kondisi yang tidak membutuhkan oksigen ).














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA



A. Sampah


1. Definisi Sampah

Sampah adalah bahan yang tidak berguna, tidak digunakan atau bahan yang terbuang sebagai sisa dari sesuatu proses yang dihasilkan dari aktifitas manusia. Sampah biasanya berupa padatan atau setengah padatan yang dikenal dengan istilah sampah basah atau sampah kering.

2. Klasifikasi Sampah

1. Sampah berdasarkan sumbernya :
1.1. Sampah rumah tangga : Sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga.

1.2. Sampah komersial : Sampah yang berasal dari kegiatan komersial seperti pasar, pertokoan, rumah makan, tempat hiburan, penginapan, bengkel, kios, pendidikan dan sebagainya.

1.3. Sampah bangunan : Sampah yang berasal dari kegiatan bangunan termasuk pemagaran dan pembongkaran suatu bangunan seperti semen, kayu, batu bata, genteng, dan sebagainya.

1.4.Sampah fasilitas umum : Sampah yang berasal dari pembersihan dan penyapuan jalan trotoar, lapangan, tempat rekreasi, dan sebagainya. Contoh jenis sampah ini adalah daun, ranting, kertas pembungkus, plastik, rokok, debu, dan sebagainya.

2. Sampah berdasarkan jenisnya :
2.1. Sampah organik (bersifat degradabel)
Sampah organik adalah jenis sampah yang sebagian besar tersusun oleh senyawa organik (sisa tanaman, hewan, atau kotoran) sampah ini mudah diuraikan oleh jasad hidup khususnya mikroorganisme.
2.2. Sampah anorganik (non degradabel).
Sampah anorganik adalah jenis sampah yang tersusun oleh senyawa anorganik (plastik, botol, logam) sampah ini sangat sulit untuk diuraikan oleh jasad renik.



3. Manfaat Sampah


1. Pengisi Tanah

Tumbuhnya tempat pemukiman baru, ruko, komplek, pembelanjaan baru, di kota yang asalnya dari rawa-rawa/tanah berair lainnya/tempat-tempat pembuangan sampah.

2. Sumber Pupuk Organik.

Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari bahan organik/makhluk hidup yang telah mati dan mengalami pembusukan oleh mikroorganisme sehingga sifat fisiknya akan berbeda dari semula.

3. Sumber Humus

Kehadiran senyawa organik dalam bentuk humus di dalam tanah dapat mempertahankan sifat fisik tanah. Dengan sifat fisik yang baik, maka kegunaan tanah menyerap dan mempertahankan air dapat terjadi dengan baik.

4. Media Penanaman Jamur

Pengunaan media dengan sampah memberikan hasil yang memuaskan. Misalnya, media jamur merang, jamur ”Shiitake” dan jamur tiram putih tumbuh dengan baik pada bahan organik yang terdapat pada kompos.

5. Penyubur Plankton.

Plankton adalah makanan utama ikan yang terdiri dari hewan dan tumbuhan bersel tunggal. Kolam ikan yang banyak palnktonnya menyebabkan pertumbuhan yang cepat pada ikan. Suburnya plankton karena pemasukan bahan-bahan organik dari sampah.

6. Media Produksi Vitamin.

Salah satu jenis mikroorganisme penghasil vitamin (vitamin B12) ternyata sangat subur pertumbuhannya di dalam media yang dicampur dengan ekstrak sampah.

7. Bahan Makanan Tanah
Sampah sebagai bahan makanan tanah secara langsung (masih segar) dan melalui proses fermentasi telah digunakan dimana-mana dengan hasil yang baik.

4. Pengelolaan Sampah
1. Pengumpulan Sampah

Cara pengumpulan sampah dengan menggunakan kantung. Kantung yang digunakan berasal dari kantung plastik. Jenis bahan ini cukup kuat dan dapat digunakan berulang-ulang serta sulit dihancurkan oleh jasad-jasad renik yang ada dalam sampah. Bentuk dan ukuran kantung disesuaikan dengan kebutuhan.

2. Penampungan

Penampungan sampah dapat menggunakan bak sampah. Bak sampah dibuat secara permanen maupun non permanen

3. Pengangkutan.

Kantung-kantung sampah yang telah terkumpul dalam bak-bak sampah, kemudian menunggu pengangkutan oleh dinas kebersihan setempat atau sampah tersebut dapat di daur ulang yang sebelumnya dipisahkan dahulu antara sampah organik dan sampah anorganik.








B. Pupuk Cair Organik

Pupuk cair organik adalah larutan hasil dari pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan dan manusia yang kandungan unsur haranya lebih dari 1 unsur. Kelebihan dari pupuk cair organik adalah dapat secara cepat mengatasi defisiensi hara, tidak bermasalah dalam pencucian hara dan mampu menyediakan hara secara cepat. Pupuk cair organik umumnya tidak merusak tanah dan tanaman walaupun digunakan sesering mungkin. Larutan ini juga memiliki bahan pengikat sehingga larutan pupuk yang diberikan ke permukaan tanah bisa langsung digunakan oleh tanaman.

1. Pupuk kandang cair
Pupuk ini berasal dari kotoran hewan dan urin ternak. Pupuk ini umumnya bisa digunakan bersama dengan kotoran padat atau pupuk hijau. Pemberian pupuk ini paling baik diberikan pada tanaman yang sedang dalam masa vegetatif dan masa perkembangbiakan, sebab ketika masa perkembangbiakan, tanaman banyak membutuhkan nutrisi.

2. Biogas
Gabungan dari fermentasi bahan organik cair dengan bahan organik padat dikenal dengan istilah biogas. Bahan pembuatannya berasal dari kotoran manusia, hewan dan tanaman. Penggunaan biogas memiliki keuntungan ganda yaitu gas metana yang dihasilkan bisa berfungsi sebagai bahan baker, sedangkan sampah padat dan cair yang dihasilkan sebagai residu bisa digunakan sebagai pupuk. Penggunaan biogas secara rutin mampu meningkatkan produksi padi secara berkesinambungan dan tidak ada residu biogas di dalam lahan sawah, sedangkan penggunaan pupuk kimia sintetis dapat menurunkan produksi tanaman jika digunakan terus-menerus.









































BAB III
METODOLOGI KARYA ILMIAH


A. Tempat dan Waktu Pembuatan Pupuk

Pembuatan pupuk cair organik dilaksanakan di Laboratorium MIPA, SMART Ekselensia Indonesia, Bumi Pengembangan Insani, Dompet Dhuafa Republika, Parung, Bogor. Pembuatan pupuk ini berlangsung pada tanggal 15 Maret 2007 sampai tanggal 3 April 2007.

B. Bahan dan Peralatan Bahan

 Bekatul 2 kg
 Molase : Gula merah dan gula putih 1 kg
 Terasi
 Air bersih (tidak mengandung kaporit)/aquadest
 Sampah organik basah
 Air tajin
 Air kelapa tua
 Isi usus ayam
 Susu sapi murni
 Nanas

Peralatan

 Ember ukuran 20 liter bertutup, gayung
 Pengaduk kayu sepanjang 50 cm
 Panci pemasak air, kompor
 Botol penyimpanan
 Saringan (dari kain kasa)
 Timbangan/neraca teknis
 Gelas ukur, tali rafia
 Karung beras berserat sintetis ukuran 25 kg
 Blender
 Sarung tangan karet, masker kain


C. Desain Pembuatan Pupuk

D. Pelaksanaan Pembuatan Pupuk Cair Organik

Pada penelitian ini sebelum membuat pupuk cair, memisahkan sampah berdasarkan klasifikasi organik dan anorganik. Bahan baku pupuk cair yang bagus adalah bahan organik basah atau bahan organik yang mempunyai kandungan air tinggi seperti sisa sayuran dan buah-buahan. Sampah yang diambil berasal dari kantin tempat para siswa dan karyawan makan.

a. Pembuatan molase Gula merah atau gula putih dilarutkan dalam air dengan perbandingan secukupnya, kemudian dipanaskan untuk memudahkan pelarutan.

b. Pembuatan bakteri Effective Microorganism Proses pembuatan bakteri Effective Microorganisme sebagai berikut :

 Trasi ¼ kg,
 gula pasir 1 kg,
 bekatul 1 kg,
 1 buah nanas (yang dihaluskan dengan blender),
 dan 10 liter air bersih dimasak dalam panci agar bakteri lain yang tidak diperlukan mati.

Setelah mendidih, larutan di taruh di dalam ember dan hasil adonannya didinginkan. Susu ayam ditambahkan dalam larutan, ditutup rapat. Setelah 12 jam timbul gelembung-gelembung. Bakteri EM yang sudah jadi akan menjadi kental/lengket. Larutan bakteri diambil, disaring, dan dimasukkan ke dalam botol. Botol disimpan di dalam ruangan sejuk dan tidak terkena sinar matahari langsung agar bakteri mendapat oksigen yang cukup. Tutup botol jangan terlalu rapat atau dibiarkan terbuka. Selanjutnya cairan EM siap digunakan untuk membuat pupuk cair organik.

c. Pembuatan pupuk cair organik Proses pembuatan pupuk cair organik berlangsung secara anaerob/fermentasi tanpa bantuan sinar matahari. Pembuatan pupuk cair organik dilakukan sebagai berikut: sampah organik dimasukkan ke dalam karung beras dan ditekan sampai padat, lalu karung tersebut diikat dengan tali rafia. Larutan media dibuat dengan mencampurkan

 500 ml cairan bakteri EM,
 air tajin 1l,
 air kelapa tua 1l,
 air bersih 7l ke dalam ember.

Karung beras yang berisi sampah organik dimasukkan ke dalam larutan media sampai bahan organik terendam seluruhnya (beban dapat diletakkan di atas karung beras agar tidak mengapung). Ember ditutup dengan rapat sehingga udara tidak bisa masuk ke dalam ember, lalu disimpan di tempat yang teduh (tidak terkena sinar matahari) selama 7-10 hari. Setelah proses fermentasi selesai, penutup ember dibuka kemudian karung yang berisi sampah organik diangkat dan dipisahkan. Volum/jumlah bahan organik akan menyusut dari volum awal. Sisa bahan tersebut bisa dijadikan bahan untuk kompos. Fermentasi yang berhasil ditandai dengan adanya bercak-bercak putih pada pemukaan cairan yang berwarna kuning kecoklatan dengan aroma khas yang menyengat. Pupuk cair organik disimpan dalam botol dan ruangan yang sejuk.

E. Analisa Hasil

Pengolahan data hasil pembuatan pupuk cair organik dianalisis secara deskripsi untuk mengetahui manfaat pupuk tersebut bagi perkembangan dan pertumbuhan tanaman























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pembuatan Molase.

Teknik pembuatan pupuk cair organik, diawali dengan pembuatan molase. Pembuatan molase tersebut bertujuan sebagai sumber energi bagi perkembangan bakteri EM. Molase dihasilkan dengan melarutkan gula putih dengan air panas.

B. Pengebangbiakan Bakteri EM

Pada pembuatan EM ini bakteri yang digunakan berasal dari usus ayam dimana di dalam usus tersebut terdapat bakteri asam lektat yang sangat berguna dalam membantu memper cepat6 perombakan bahan organik, meneka pertumbuhan bakteri organisme patogen yang timbul dari pembusukan bahan organik, dan membantu proses fermentasi di dalam media larutan menjadi lebih sehat dan cepat

C. Pembuatan Pupuk Cair Organik

Proses pembuatan pupuk cair organik menggunakan cara fermentasi yaitu suatu preses dimana tidak membutuhkan oksigen (anaerob). Hasil yang didapat setelah fermentasi ternyata terdapat adanya bercak-bercak putih pada permukaan cairan yang berwarna kuning kecoklatan dengan aroma khas yang menyengat. Hal tersebut menandakan bahwa pupuk cair organik telah selesai dibuat. Keunggulan pupuk cair organik diantaranya adalah menyehatkan lingkungan, meningkatkan prokdutifitas tanah, menekan biaya usaha tani dan meningkatkan kualitas produk. Prinsip kerja pupuk cair organik untuk membantu proses pertumbuhan tanaman yang dimulai dari meningkatkan prokdutifitas tanah secara keseluruhan dilihat baik dari fisik, kimia, maupun biologi. Pupuk cair organik pada tanah secara fisik dapat menggemburkan tanah, memperbaiki aerasi dan draenasi, mencegah dan meningkatkan daya olah tanah. Secara kimia dapat meningkatkan kestersediaan unsur hara dan meningkatkan proses pelapukan bahan mineral. Sedangkan pemberian pupuk cair organik pada tanah keunggulannya adalah, menjadi sumber makanan bagi mikroorganisme tanah seperti, bakteri, serta mikroorganisme menggantung lainnya, sehinga perkembangan nya menjadi lebih cepat. Kesuburan secara alami bergantung pada unsur-unsur kimia.



















BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan
Berdasarkan hasil pemanfaatan sampah sebagai pupuk cair organik dapat disimpulkan bahwa :

1. Sampah dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair organik baik secara langsung maupun tidak langsung dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman.

2. Penggunaan bakteri effective microorganism untuk mengolah sampah menjadi pupuk cair organik dapat meningkatkan kualitas tanah bagi kelangsungan hidup tanaman.

3. Sampah organik yang dimanfaatkan menjadi pupuk cair organik sangat berperan bagi perbaikan sifat fisik, kimia dan dan biologi tanah sehingga dapat meningkatkan kualitas produk.









2. Saran
Berdasarkan karya ilmiah ini beberapa hal yang penting untuk dijadikan bahan pertimbangan dan saran adalah :

1. Pemanfaatan sampah sebagai pupuk cair organik perlu diaplikasikan terhadap berbagai jenis tanaman dengan penelitian lebih lanjut.

2. Pengamatan lebih lanjut mengenai modifikasi media-media atau bahan-bahan yang digunakan untuk membuat bakteri effective microorganism dan pupuk cair organik.




















DAFTAR PUSTAKA

Djuarnani N, Kristian, Setiawan BS. Cara cepat membuat kompos. Cet.1. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta. 2005.

Hadisuwito S.Membuat pupuk kompos cair. Cet. 1. PT. Agromedia Pustaka, Jakarta 2007.

Moerdjoko S,Widyatmoko. Menghindari, mengolah dan menyingkirkan sampah. Cet.1. PT. Dinastindo Adiperkasa Internasional. Jakarta. 2002.

Musnamar EI. Pembuatan, aplikasi pupuk organik padat. Cet.3. Penebar Swadaya. Jakarta. 2006.

Purwendro S, Nurhidayat. Mengolah sampah untuk pupuk dan pestisida organik. Cet.1. Seri Agritekno. Penebar Swadaya. Jakarta. 2006.

Sudradjat. Mengelola sampah kota. Cet.1. Seri Agritekno. Penabar Swadaya. Jakarta. 2006.

Sutanto R. Dasar-dasar ilmu tanah, konsep dan kenyataan. Cet.5. Kanisius Media. Yogyakarta. 2005.

Waluyo L. Mikrobiologi lingkungan. Cet.1. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang. 2005.

http://id.wikipedia.org/wiki/sampah http://petanidesa.wordpress.com/

capek kopas mending download disini

karya ilmiah bahasa indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

A. Permasalahan
Kualitas sumber daya manusia dipengaruhi oleh beberapa aspek yaitu, IQ, EQ, dan SQ, Salah satu aspek tersebut, yaitu IQ sangat berpengaruh dalam mencapai prestasi pendidikan, yang ditandai dengan prestai yang baik dan ini akan berpengaruh terhadap keberhasilan pembangunan, sehingga dapat meningkatkan kualitas manusia. Seperti yang dikatakan Allen (dalam AS’ad, 1978) tentang pentingnya unsur manusia, betapapun sempurnanya rencana organisasi, pengawasan, dan penelitian, bila mereka tidak dapat menjalankan tugasnya dengan minat dan perasaan gembira, maka tidak akan mencapai hasil sebesar yang seharusnya dapat dicapai.
Seperti halnya yang terjadi pada Ujian Nasional (UN) tahun ini, terdapat kenaikan persentase siswa yang tidak lulus ujian. Dari 18.204 siswa SMK yang mengikuti ujian 4.513 siswa atau 24,79% tidak lulus. Disusul SMA/MA dengan siswa yang tidak lulus 5.221 siswa 22,64% serta SMP/MTs diman 8.923 siswanya atau 15.59% tidak lulus (Kompas, 2005)
Tingginya angka ketidak lulusan siswa dikarenakan standar kelulusan UN naik, dari tahun lalu 4,01, menjadi 4,26 tahun ini, dan juga pada tahun ini pemerintah tidak melakukan konversi nilai atas hasil Ujian Nasional (UN). Pengolahan nilai dilakukan dengan metode skor relative, yakni jawaban benar dibagi total pertanyaan, dikalikan 10, artinya nilai UN diberikan apa adanya. Namun mereka yang tidak lulus tersebut diberikan kesempatan mengikuti Ujian tahap kedua pada 22-24 Agustus 2005 (Kompas, 2005)
Tingginya angka ketidaklulusan siswa bukan hanya disebabkan oleh tidak adanya konversi nilai dan dinaikkannya standar kelulusan UN dari 4,01 menjadi 4,26, tapi juga disebabkan kurangnya motivasi berprestasi dan kemauan untuk maju dari siswa maupun guru atau sekolah.
Pendidikan pada dasarnya dapat diartikan sebagai suatu proses bantuan yang diberikan dalam usaha mencapai perkembangan anak didik yang optimal, sesuai dengan bakat, kemampuan dan minat anak tersebut. Tugas pendidikan adalah mendorong memberikan inspirasi, mengarahkan dan membantu anak didik dalam mencapai tujuan dan bukan semata-mata menerapkan hal-hal yang terdapat dalam buku (Whiterington), 1982).
Salah satu indicator ketidak berhasilan dalam pelaksanaan proses belajar mengajar adalah rendahnya tingkat hasil belajar siswa, setiap siswa tidak selalu memperoleh hasil yang diharapkan dalam arti relative rendah, kenyataan sering di temui bahwa siswa yang memperoleh hasil belajar jauh dibawah rata-rata standar UN adalah normal bila dibandingkan dengan hasil belajar yang diperoleh temn-temannya dalam satu kelas yang mempunyai hasil belajar yang relatif rendah. Tetapi banyak juga ditemui sejumlah siswa yang sama tinggi potensinya tidak sebaik potensinya, bahkan mungkin lebih rendah dari temn-temannya yang memiliki potensi yang kurang dari mereka. Hal tersebut disebabkan karena adanya beberapa faktor yang berhubungan dan mempengaruhi hasil belajar siswa. Faktor tersebut dapat berasal dari siswa, sekolah, keluarga atau masyarakat. Faktor yang berasal dari dalam diri siswa merupakan faktor yang sangat menentukan dalam usaha mencapai prestasi belajar yang tinggi karena siswa merupakan subjek dari tujuan pendidikan disekolahan sehingga pada diri siswa diharapakan adanya perubahan-perubahan positif, sebagai hasil tes dari proses belajar mengajar di sekolah, siswa merupakan pribadi utuh yang memiliki karakteristik atau sifat-sifat kepribadian yang berbeda-beda.
Menurut Sardiman (1987) karakteristik individual siswa adalah pola kelakuan dan kemampuan siswa yang menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-cita. Pola kelakuan dan kemampuan tersebut meliputi taraf intelegensi, gaya belajar, motivasi, belajar, sikap dan minat belajar. Jadi karakteristik individual siswa ikut menentukan prestasi belajar.
Prestasi belajar sendiri di pengaruhi oleh :
1. Motivasi, baik itu motivasi intrinsic ataupun motivasi ekstrinsik
2. Linkungna, baik lingkungan social ataupun lingkungan non social
3. Kemampuan anak, dalam arti kecerdasan yang dimiliki oleh anak
4. Minat anak dalam belajar
5. Bakat yang dimiliki oleh anak
6. Fasilitas belajar yang mendukung.
Motivasi berprestasi mempunyai peran yang sangat penting dalam proses pendidikan karena tanpa adanya motivasi sulitlah rasanya untuk mengharapkan sesuatu yang pretatif (Irfan, 2000). Tanpa adanya motivasi bearti seorang pelajar tidak akan bekerja keras demi meraih prestasi, adanya motivasi berprestasi yang tinggi pada diri seorang pelajar maka diharapkan pelajar akan memberikan usaha yang keras dalam mewujudkan prestasinya dan tidak melakukan hal-hal yang dapat menghambatnya dalam meraih prestasi tersebut.
Dari hasil penelitian sebelum diketahui bahwa perkembangan motivasi berprestasi bersumber dari masa kanak-kanak. Perkembangan motivasi berprestasi ini dipengaruhi oleh cara orang tua mengasuh anak (Winterbottom, dalam Martaniah, 1982).
Remaja adalah generasi yang akan mengisi posisi dalam masyarakat, bansa dan Negara dimasa depan (Sarwono,1991). Demikian maka pembahasan remaja sebagai generasi berprestasi harus dilakukan secara mendalam.
Menurut Ancok (1993), problem yang banyak di hadapi remaja antara lain lemahnya motivasi berprestasi dan kurangnya semangat untuk maju. Oleh karena itu remaja memerlukan dukungan dari lingkungan, baik dukungan moril maupun materiil dalam berprilaku. Lingkungan terdekat dari remaja adalah orang tua, guru dan teman. Keluarga merupakan tempat untuk pertama kalinya seorang anak memperoleh pendidikan dan mengenal nilai-nilai maupun peraturan-peraturan yang harus diikutinya serta mendasari anak untuk melakukan hubungan social yang luas, peran orang tua tetap dibutuhkan dalam perjalanan usia kanak-kanak sampai dewasa, dan yang lebih penting adalah pada masa remaja. Hal ini juga di dukung oleh pendapat Sarwono (1989) yang menyatakan bahwa adanya perhatian orang tua terhadap remaja dapat mendorong remaja untuk berprestasi di sekolah.
Sebagai peletak dasar kepribadian manusia, keluarga merupakan sumber pendidikan yang pertama dan utama, karena segala pengetahuan dan kemampuan intelektual manusia pertama-tama di peroleh dari orang tua dan anggota keluarga sendiri, jadi keluarga merupakan lingkungan primer bagi hamper setiap individu.
Sebagai lingkungan primer, hubungan antara manusia yang paling awal dan paling intensif terjadi dalam keluarga. Sebelum anak mengenal lingkungan yang lebih luas, terlebih dahulu anak mengenal lingkungan keluarganya. Oleh karena itu sebelum anak mengenal norma-norma dan nilai-nilai dari masyarakat umum, anak peryam kali menyerap norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarganya untuk di jadikan bagian dari kepribadiannya. Nilai yang berasal dari keluarga di turunkan melalui pendidikan dan pengasuhan orang tua sebagai pimpinan keluarga berperan dalam meletakan dasar-dasar kepribadian anak melalui sikap, prilaku dan kebiasaan orang tua. Anak belajar menyesuaikan diri dengan system kebiasaan yang di peroleh dari orang tua dan pada suatu saat nanti akan membentuk kepribadian tertentu.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya orang tua memegang peranan penting dalam pendidikan anak, oleh karena itu komunikasi yang berlangsung dengan baik akan lebih mudah bila di antara kedua pihak ada sikap saling terbuka. Soekadji (1986) mengemukakan bahwa individu yang berpendidikan tinggi akan cenderung lebih bersikap terbuka.
Sikap terbuka menurut Rusbiyanti (1987) yang mengutip dari staff yayasan CLC, adalah suatu kebiasaan yang menunjukan bahwa seseorang senang berkomunikasi, berdialog serta senang mengungkapkan diri, baik perasaan, pengalaman, keinginan, berdialog serta senang mengungkapkan diri, baik perasaan, pengalaman, keinginan, cita-cita atau permasalahannya kepada orang lain yang berarti bagi dirinya, yaitu orang lain yang dekat dan mempunyai hubungan emosional dengan dirinya.
Ketua Komisi Nasional (Komnas) Anak Seto Mulyadi menyatakan, pada era globalisasi ini komunikasi antara orang tua dan anak makin dangkal. Selain akibat apa yang ia sebut gempuran budaya visual, kenyataan ini diperparah oleh kecenderungan pengalihan tanggung jawab pengasuhan anak kepada lembaga pendidikan formal. Akibatnya, anak tidak terbiasa berdialog dan kehilangan kreativitas (Kedaulatan Rakyat, 2005)
Demikian dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan orang tua sangat mempengaruhi pemberian motivasi terhadap anak, orang tua yang berpendidikan tinggi umumnya lebih mengerti akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka, ia menyadari bahwa keberhasilan anak di sekolah atau dalam belajar tidak hanya tergantung kepada guru/pihak sekolah, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga.
Berdasarkan hal tersebut diatas penulis ingin mengetahui apakah ada hubungan antara motivasi berprestasi dari orang tua dan tingkat pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar pada remaja.


B. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang ada tidaknya hubungan dan sumbangan efektif dari motivasi berprestasi dan tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar pada remaja.

C. Manfaat Penelitian
Manfaat Teoritis
Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi tentang apakah ada hubungan antara dari orang tua dan tingkat pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar pada remaja.
Manfaat Praktis
Informasi tersebut dapat di jadikan sebagai masukan bagi para orang tua dalam mendidik dan memberikan motivasi kepada anaknya, selain itu penelitian ini dapat menambah khasanah ilmu psikologi pendidikan khususnya tentang motivasi berprestasi.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PRESTASI BELAJAR
masalah belajar merupakan pokok dalam dunia pendidikan, yaitu sebagai tindak pelaksana, dimana siswa belajar dan guru mengajar. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan hal-hal yang berhubungan dengan prestasi belajar.
1. Pengertian Belajar
Belajar adalah bagian dari suatu kehidupan. Seseorang dikatakan telah melakukan proses belajar apabila pada diri orang tersebut terjadi perubahan dari tidak mengetahui sesuatu menjadi mengetahui, perubahan dari tidak dapat melakukan sesuatu menjadi dapat melakukannya. Belajar itu berlangsung bila terjadi perubahan atau modifikasi dalam tingkah laku. Belajar adalah membawa perubahan dalam arti behavioral chanche, actual maupun potensial. Perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecapan baru yang terjadi karena usaha dengan sengaja (Suryabrata, 1990).
Banyak lagi definisi yang dikemukakan oleh para ahli mengenai belajar. Horny (1986) mengatakan bahwa “ learning is advanced knowledge gained by careful study “. Slameto (1988) mendefinisikan belajar sebagai proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.
Menurut Masrun dan Martaniah (dalam Simanjuntak, 1999), belajar adalah pengubahan secara lahir dan batin yang positif dan aktif menuju tertentu. Sedang Hamalik (dalam Madina 1998) member batasan belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru karena pengalaman dan latihan. Menurut Zimbardo (dalam Madina 1998), belajar didefinisikan sebagai suatu perubahan tingkah laku yang relative tetap sebagai akibat dari pengalaman. Semua makhluk hidup mempunyai kemampuan untuk belajar tentang dua dasar kehidupan yaitu kejadian yang pernah dialami (pengalaman masa lalu) dan respon terhadap kejadian tersebut.
Gejala belajar Nampak dari adanya perubahan tingkah laku yang sifatnya relative bertahan, dapat bersifat actual dan potensial Sukarti (dalam Simanjuntak, 1999). Menurut Tinghe (dalam Saifullah, 1999), belajar oleh ahli psikolog didefinisikan sebagai suatu perubahan yang tetap pada tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman. Pengetahuan tentang belajar atau ilmu jiwa belajar mencari untuk menetapkan syarat-syarat dari prinsip-prinsip yang menguasai perubahan-perubahan tersebut.
Chaplin (dalam Syah, 1995) membatasi pengertian belajar dengan dua rumusan, rumusan pertama bahwa belajar adalah perolehan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman,. Rumusan kedua bahwa belajar ialah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adannya latihan khusus. Ahmad dan Supriyono (1991) mengemukakan bahwa secara psikologis, belajar berarti suatu usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.
Menurut Gagne (dalam Simanjuntak, 1999), belajar berlangsung bila terjadi perubahan atau modifikasi dalam tingkah laku. Belajar merupakan suatu peristiwa yang terjadi pada diri seseorang sebagai akibat interaksi dan komunikasi dengan berbagai pengalaman (internal dan eksternal) yang memungkinkan terjadinya perubahan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap sebagai pengalaman endukatif. Berbagai kegiatan yang timbul dari dorongan lingkungan merupakan masukan bagi suatu proses belajar. Kejadian belajar ini dapat dilukiskan melalui tahap-tahap perbuatan belajar dan proses yang berhubungan dengan kejadian tersebut.
Tahap-tahap belajar itu terdiri dari:
a. Tahap motivasi yang mengandung harapan-harapan yang dapat membangkitkan alasan untuk berbuat
b. Tahap pemahaman yang mengandung perhatian dalam mengadakan pilihan dan penerimaan
c. Tahap akusisi yang mengandung aturan pemasukan dan penyimpanan
d. Tahap penahan yang berisi mengingatkan dan menyimpan
e. Tahap memanggil kembali yang berarti mampu mendapatkan kembali
f. Tahap generalisasi yang mengandung penggantian atau transfer
g. Tahap performans yaitu perbuatan yang mengandung jawaban terhadap sesuatu yang pernah dimiliki
h. Tahap balikan yang mengandung penguatan atau reinforcement
Rangkaian tahapan ini terjadi secara berkesinambungan yang bersifat internal dan eksternal. Kejadian proses belajar secara eksternal yang direncanakan dengan baik bagi tujuan belajar disebut bimbingan belajar.
Proses belajar itu sendiri, antara lain :
a. Belajar dari sinyal (sinyal learning)
b. Belajar berdasarkan stimulus-respons (stimulus-response learning)
c. Menghubungkan (chaining)
d. Asosiasi Verbal (Verbal association)
e. Mempelajari Konsep (concept learning)
f. Belajar dengan membedakan (discrimination learning)
g. Mempelajari Peraturan (rule learning)
h. Pemecahan Masalah (problem solving)
Proses belajar berlangsung sejak seseorang mulai belajar dan dapat berlangsung dalam berbagai cara. Suatu teori belajar tidak cukup hanya menjelaskan proses belajar secara menyeluruh, belajar dapat terjadi secara asosiatif dan kognitif atau gabungan keduanya yang merupakan suatu rangkaian proses belajar (Sukarti dalam Simanjuntak, 1999)
Dari npengertian diatas dapat disimpukan bahwa pada dasarnya belajar adalah bagian dari suatu kehidupan. Seseorang dikatakan telah melakukan proses belajar apabila pada diri orang tersebut terjadi perubahan dari tidak mengetahui menjadi mengetahui, dari perubahan tersebut didapatkan kecakapan baru. Belajar juga didefinisikan sebagai proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang sifatnya tetap, sebagai dari pengalaman dan latihan.
2. Pengertian Prestasi Belajar
Menurut Notonegoro (dalam Ilmoe, 1993), Prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran disekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari tes mengenai sejumlah mata pelajaran tertentu.
Sedangkan menurut Dakir dkk (1991), prestasi belajar adalah suatu hasil yang dicapai dalam perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman.
Wirawan (dalam Saifullah, 1999) menyebutkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dapat atau dicapai seseorang dari usaha belajarnya yang telah dilakukan dalam periode tertentu. Masrun dan Martaniah (dalam Suryningdyah, 2000) mengatakan bahwa prestasi belajar dipakai sebagai ukuran untuk mengetahui hasil kegiatan belajar yakni sejauh mana anak didik dapat menguasai bahan pelajaran yang dianjurkan atau dipelajari.
Prestasi belajar siswa merupaka hasil belajar yang dapat dicapai pada saat dilakukan evaluasi. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana penguasa siswa terhadap berbagai hal yang pernah diajarkan atau dilatihkan menyeluruh (Mangindaan dalam Saifullah, 1999)
Menurut Gagne (dalam Simanjuntak 1999) hasil belajar dikelompokkan menjadi :
a. Informasi Verbal, terdiri dari norma, prinsip, generalisasi yang disampaikan secara lisan
b. Ketrampilan Intelektual terdiri dari diskriminasi, konsep, aturan, dan pengaturan yang lebih tinggi yang dapat melibatkan siswa unuk melakukan berbagai hal dengan mempergunakan symbol dari lingkungan.
c. Strategi Kognitif merupakan kemampuan dalam mengorganisir perhatian atau memusatkan perhatian, belajar, ingatan, berfikir sehingga seseorang mampu mengendalikan proses belajarnya sendiri.
d. Sikap merupakan salah satu bentuk belajar dan berbagai sikap dapat diidentifikasi sebagai tujuan pendidikan.
e. Ketrampilan Motorik dipelajari dalam hubungannya dengan kegiatan manusia, misalnya mengendarai sepeda, sepeda motor, mobil, dan bermain music.
Prestasi belajar siswa tergantung dari seberapa jauh dapat dikembangkan informasi verbal, kemampuan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan kemampuan motorik.
Menurut Bigge (dalam Madina 1998), variasi masukan tingkah laku kognitif dan afektif serta kualitas pengajaran turut menentukan prestasi belajar. Tinggi rendahnya prestasi belajar tergantung dari taraf dan jenis belajar serta landasan belajar afektif yang berhubungan dengan tugas-tugas sekolah (Bloom, dalam Yaswardi 1999)
Demikian dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan siswa dalam belajar. Prestasi belajar juga dapat dijadikan sebagai ukuran untuk mengetahui hasil belajar seseorang yang dicapai pada saat evaluasi, hasil belajar tersebut dikelompokkan menjadi :
1. Informasi verbal
2. Ketrampilan intelektual
3. Strategi kognitif
4. Sikap
5. Ketrampilan motorik

3. Prinsip - Prinsip Belajar
Dalam belajar digunakan prinsip. Prinsip ini digunakan sebagai pedoman dalam belajar. Adapun prinsip – prinsip belajar itu antara lain :
a. Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi hubungan saling mempengaruhi secara dinamis antara siswa dengan lingkungan.
b. Belajar yang paling efektif apabila didasari dorongan motivasi yang murni dan bersumber dari dirinya sendiri.
c. Belajar senantiasa harus bertujuan, terarah, dan jelas bagi siswa.
d. Jenis belajar yang paling utama adalah belajar untuk berfikir kritis, lebih baik dari pembentukan kebiasaan – kebiasaan mekanis.
e. Belajar harus disertai dengan keinginan dan kemauan untuk mencapai tujuan atau hasil.
f. Belajar dianggap berhasil apabila si pelajar sanggup mentransfer atau menerapkan kedalam bidang praktek sehari-hari (Hamalik dalam Madina,1998).
4. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Berbicara tentang factor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar tidak akan terlepas dari proses belajar, karena prestasi belajar ditentukan oleh bagaimana prose situ berlangsung. Ada banyak factor yang mempengaruhi proses belajar tetapi faktor-faktor tersebut pada dasarnya dapat digolongkan menjadi : (a) faktor internal dan (b) faktor eksternal (Gunarsa, dalam Yaswardi 1999)
a. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis : faktor fisiologis berkaitan dengan keadaan jasmani pada umumnya dan keadaan panca indra terutama penglihatan dan pendengaran. Faktor-faktor psikologis meliputi minat, bakat, perasaan, motivasi, sikap dan kebiasaan, dan kemampuan kognitif.
Hengenhahn (dalam Saifullah, 1999) menyebut faktor internal ini sebagai karakteristik siswa yang meliputi :
1). Kemampuan intelektual dan non intelektual, seperti minat, bakat dan motivasi belajar.
2). Faktor-faktor fisik, seperti keadaan indra dan kondisi fisik pada umumnya.


b. Faktor Eksternal
factor eksternal adalah factor yang datang dari luar individu yang meliputi :
1. Factor keluarga, yang meliputi hubungan anak dengan orang tua , sikap orang tua, ekonomi keluarga, suasana dalam keluarga
2. Factor sekolah, misalnya : proses belajar mengajar, hubungan guru dengan murid, keadaan gedung, disiplin sekolah dan lingkungan masyarakat.
Selanjutnya dikemukakan pula bahwa selain karakteristik siswa, factor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah :
1. Karakteristik guru
2. Bahan yang dipelajari
3. Media pengajaran
4. Karakteristik fisik sekolah
5. Factor lingkungan dan situasional
6. Kurikulum dan tujuan pengajaran
Factor-faktor yang mempengaruhi proses belajar tersebut, baik factor internal maupun factor eksternal dapat bersifat positif (mendukung) dan dapat pula bersifat negative (menghambat). Apabila factor-faktor tersebut bersifat positif misalnya tingkat kecerdasannya tinggi, tujuan yang jelas, mendapat kesenangan dari hasil belajarnya, banyak melakukan latihan, ingatannya kuat dan mempengaruhi pengalaman belajar sebelumnya tentang bahan yang dipelajari, fasilitas yang memadai dari lingkungan yang kondusif, maka individu tersebut akan memperoleh prestasi belajar yang baik.
5. Pengukuran Pretasi Belajar
Prestasi belajar siswa dihitung dengan cara mengukur atau member nilai berdasarkan kriteria tertentu dalam jangka waktu tertentu.
a. Fungsi Tes Prestasi
Pengadaan tes prestasi ini didasarkan pada beberapa fungsi yang bisa diperoleh, yaitu fungsi penempatan (placement), fungsi formatif, fungsi diagnostic, dan funsi sumatif. Fungsi penempatan adalah penggunaan tes prestasi untuk mengklasifikasikan individu kedalam bidang atau jurusan yang sesuai, misalnya pada saat penjurusan. Fungsi formatif yaitu penggunaan tes prestasi sebagai jalan untuk melihat sejauh mana kemajuan belajar yang dicapai siswa dalam suatu program pelajaran. Kegunannya disini sebagai umpan balik kemajuan belajar, dan biasanya dilakukan ditengah suatu program yang sedang berjalan. Sedangkan fungsi sun\matif adalah tes prestasi yang digunakan untuk memperoleh informasi mengenai penguasaan pelajaran yang telah direncanakan sebelumnya dalam suatu program pelajaran. Tes prestasi sumatif ini biasanya dipakai untuk menentukan siswa berhasil atau gagal dalam menguasai pelajaran pada kurun waktu tertentu. (Azwar, 1996)
b. Penelitian
Pemberian nilai (grading) tes prestasi merupakan proses penerjemahan skor hasil tes yang sudah dikonversikan kedalam klasifikasi evaluatif menurut norma atau kriteria yang relevan. Cara melakukan penilaian tersebut bermacam-macam, salah satu contoh adalah dengan memberikan tugas-tugas khusus, memberikan pertanyaan, memproduksi hal-hal yang telah diajarkan dan yang paling utama adalah memberikan ujian pada siswa yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu (Wirawan, dalam Suryaningdyah, 2000). Hasil dari penelitian itu lalu dinyatakan dalam suatu pendapat dan diberikan oleh guru kepada siswa dan orang tua dalam bentuk rapor. Rapor tersebut berisi kemajuan atau hasil belajar siswa dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

6. Prestasi Belajar Pada Remaja
Piaget (dalam Kiranawati, 1992) mengatakan bahwa adolescence adalah suatu fase hidup dengan perubahan-perubahan tercakup yang dalam perkembangan fase kognitifnya, secara psikologis remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, individu memiliki hak yang sama dengan orang dewasa, individu mengalami perunahan intelektual yang menonjol.
E. H. Erikhson (dalam Hendriani, 1996) mendefinisikan remaja sebagai masa timbulnya perasaan baru tentang identitas. Pada fase ini terbentuk gaya hidup yang khas sehubungan dengan penempatan dirinya.
Sedangkan Calon (dalam Monks, 1991) mengatakan bahwa masa remaja adalah masa yang menunjukkan dengan jelas sifat-sifat masa transisi atau peralihan, karena pada masa ini remaja belum meperoleh status dewasa tetapi tidak lagi memperoleh status kanak-kanak.
Selaras dengan pendapat Haditono (dalam Hendriyani, 1996) yang mengatakan bahwa masa remaja bagaikan masa yang bergolak. Dalam masa ini yang berlangsung dari usia 12 sampai 21 tahun banyak terjadi perubahan, baik fisik maupun psikis. Perubahan-perubahan tersebut dapat menyebabkan kekacauan batin remaja. Masa remaja juga disebut dengan transisi dari masa kanak-kanak kemasa dewasa yang menimbulkan perubahan yang menegangkan. Remaja merasa tidak puas, selalu ingin penampilan yang berbeda serta timbul konflik dalam dirinya.
Prestasi belajar pada remaja sangatlah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar kurang mendukung, maka prestasi belajarnya pun kurang baik.
Ramplein (dalam Haditono dkk, 2002) berpendapat bahwa masa remaja dibagi menjadi beberapa batasan usia, yaitu :
a. Masa pubertas, berlangsung pada usia 10,5 tahun sampai 13 tahun untuk wanita dan 12-14 tahun untuk pria
b. Masa remaja awal, berlangsung pada usia 13-15,5 tahun untuk wanita dan 14-16 tahun untuk pria
c. Masa krisis remaja, berlangsung pada usia 15,5-16,5 tahun untuk wanita dan 16-17 tahun untuk pria
d. Masa adolescence, berlangsung pada usia 16,5-20 tahun untuk wanita dan 17-21 tahun untuk pria.
Cole (dalam Hendriyani, 1996) membagi tahap perkembangan remaj sebagai berikut
a. Masa remaja awal : Usia 13-15 tahun
b. Masa remaja pertengahan : Usia 15-19 tahun
c. Masa remaja akhir : Usia 19-21 tahun
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa masa remaja merupakan masa trasisi atau peralihan, karena pada masa ini seseorang belum memperoleh status dewasa tetapi tidak lagi memperoleh status kanak-kanak. Karena remaja berada pada masa transisi, maka dalam mencapai prestasi belajar remaja sangat membutuhkan dukungan dari lingkungan terutama dari orang tua, tanpa adanya lingkungan yang mendukung sulitlah rasanya remaja dapat mencapai prestasi yang baik.
B. Motivasi Berprestasi
1. Pengertian Motif dan Motivasi
Istilah motif dan motivasi sering digunakan untuk membahas perilaku individu. Kata-kata motif diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Menurut Suryabrata (1990), motif adalah keadaan dalam diri individu yang mendorong individu tersebut untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau mendesak (Sardiman, 1988).
Menurut Martiah ( dalam Madina, 1998) motif merupakan konstruksi yang potensial dan laten yang dibentuk oleh pengalaman-pengalaman yang secara relative dapat bertahan meskipun masih ada kemungkinan berubah, yang berfungsi menggerakkan serta mengarahkan perilaku pada tujuan tertentu. Atkinso (1979) juga menjelaskan bahwa motif dapat diartikan sebagai suatu disposisi laten yang mendorong atau mengarahkan individu untuk mencapai tujuan tertentu.
Woodworth dan Marquis (dalam Sardiman, 1987) membagi motif menjadi tiga bagian:
a. Motif atau kebutuhan organis, meliputi kebutuhan untuk minum, makan, bernafas, seksual, dan kebuthan untuk istirahat
b. Motif darurat, antara lain dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk berusaha dan dorongan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Jelasnya motif ini timbul karena ada dorongan dari luar.
c. Motif objektif, antara lain kebutuhan untuk eksplorasi dan kebutuhan untuk menaruh minat. Motif ini timbul karena dorongan untuk menghadapi dunia luar secara efektif
Hamper sama dengan pembagian diatas, Suryabrata (1990) meggolongkan motif menjadi dua bagian :
a. Motif ekstrinsik, yaitu motif yang berfungsinya disebabkan oleh adanya perangsang dari luar individu, seperti teman sebaya, orang tua, sekolahan dan masyarakat luas
b. Motif interinsik, yaitu motif yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar diri individu.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motif adalah suatu kekuatan yang terdapat dalam diri individu yang menyebabkan individu bertindak atau berbuat untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Motif dapat berasal dari dalam diri individu itu sendiri maupun dari luar diri individu.
Motivasi dapat diartikan sebagai dorongan untuk melakukan aktivitas dalam tujuan tertentu. Konsep motivasi sering digunakan untuk menerangkan perbedaan intensitas suatu perilaku. Oleh Eysenck dkk (dalam Slameto, 1995) dirumuskan sebagai suatu proses yang menentukan tingkat kegiatan, intensitas, konsisten, serta arah umum dari tingkah laku manusia, merupakan konsep-konsep lain, seperti minat, konsep diri, sikap dsb. Siswa yang tampaknya tidak bermotivasi,tetapi mungkin sebenarnya siswa tersebut cukup bermotivasi hanya saja tidak dalam hal-hal yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa. Mungkin siswa cukup bermotivasi untuk berprestasi disekolah, akan tetapi lingkungan tidak mendukung, misalnya teman-teman yang tidak termotivasi
Ada beberapa teori motivasi, salah satu teori yang terkenal kegunaannya untuk menerangkan motivasi siswa adalah yang dikembangkan oleh Maslow (dalam Slameto, 1995) bahwa tingkah laku manusia dibangkitkan dan diarahkan oleh kebuthan-kebutuhan ini yang memotivasi tingkah laku seseorang dan dibagi oleh Maslow kedalam lima kategori sbb:
1. Kebutuhan fisiologis (physiological needs), ini merupakan kebutuhan manusia yang paling dasar, meliputi kebutuhan makan, pakaian, sex, tempat tinggal, yang penting untuk mempertahankan hidup.
2. Kebutuhan rasa aman (safety needs), ini merupakan kebutuhan kepastian dan lingkungan yang aman. Ketidak pastian, ketidakadilan, dan keterancaman, akan menimbulkan kecemasan dan ketakutan pada diri individu.
3. Kebutuhan social (social needs), ini merupakan kebutuhan akan rasa cinta/afeksi dan pertalian dengan orang lain, kepuasan dan perasaan memiliki serta diterima dalam suatu kelompok
4. Kebutuhan penghargaan (esteem needs), ini merupakan kebutuhan rasa berguna, penting, dihargai, dikasihi, dihormati, oleh orang lain secara tidak langsung ini merupakan kebutuhan perhatian,ketenaran, status, martabat dll
5. Kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs), ini merupakan kebutuhan manusia untuk mengembangkan diri sepenuhnya, merealisasikan potensi-potensi yang dimilikinya. Pengembangan diri semaksimal mungkin, kreativitas, ekspresi diri dan melakukan apa yang paling cocok, serta menyelesaikan pekerjaan sendiri.
Mc. Cown (dalam Suryabrata, 1990) menyatakan bahwa motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik keduanya berfungsi mengarahkan perilaku pada tujuan yang ingin dicapai. Motivasi merupakan suatu kondisi aktif dalam diri individu jika motivasi telah berhubungan dengan suatu pengharapan.
Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan suatu kekuatan atau dorongan yang sudah aktif dalam diri individu, sehingga menyebabkan individu berbuat, bertindak, atau bertingkah laku untuk mencapai tujuan tertentu yang diinginkan.
Motif dan motivasi merupakan istilah yang mirip atau sama, keduanya merupakan factor utama yang mempengaruhi dan merupakan kekuatan yang menyebabkan individu bertingkah laku (Mc.Clelland, 1980). Motif merupakan bentukpotensial, sedangkan motivasi lebih merupakan bentuk actual (Heckhaunsen, dalam Soeramto, 1997).

2. Pengertian Motivasi Berprestasi
Dalam hubungannya dengan prestasi, motivasi berprestasi mempunyai peranan didalam prestasi seseorang. McClelland (dalam Slavin, 1991), mengemukakan beberapa kebutuhan, yaitu kebutuhan akan motivasi berprestasi (Need for Afiliation). Dalam hal motivasi berprestasi tinggi, bila dihadapkan pada tugas-tugas yang kompleks cenderung melakukannya semakin baik begitu tampak berhasil, dan selalu Nampak penuh semangat dalam usaha menyelesaikantugas dengan baik, serta selalu siap mempelajari bagaimana dapat mengerjakan tugas-tugas dengan lebih baik lagi pada proses selanjutnya.
Istilah motivasi berprestasi mula-mula dikemukakan oleh Mc.Clelland (dalam Slavin, 1991)dengan sebutan yang dikenal dengan istilah Need for Achievement atau disingkat N-Ach. Need for Achievement adalah suatu pikiran yang berhubungan dengan bagaimana melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya atau dengan lebih baik dibandingkan dengan yang pernah dilakukan sebelumnya, lebih cepat dan lebih efisien dengan hasil yang maksimal. Need for Achievement ini merupakan virus mental, jika virus mental ini sudah terjangkit pada diri seseorang, maka akan menyebabkan orang tersebut bertingkah laku secara amat giat.
Lindgren (dalam Slameto, 1995) mengemukakan bahwa motivasi berprestasi dapat diartikan sebagai suatu dorongan yang berhubungan dengan prestasi, yaitu adanya keinginan seseorang untuk menguasai, memanipulasi, mengatur lingkungan social maupun lingkungan fisik, mengatasi rintangan, mempertahankan kualitas kerja yang tinggi dan bersaing melalui usaha yang keras untuk melebihi prestasinya sendiri yang pernah dicapai pada masa lampau.
Menurut Haditono (dalam Madina, 1998), Motivasi berprestasi adalah suatu disposisi meraih prestasi dalam hubungannya dengan nilai standar keunggulan, standar keunggulan yang berkaitan dengan motivasi berprestasi meliputi tiga hal, yaitu :
a. Task Related Standard of Excelence, yakni suatu patokan yang berhubungan dengan hasil yang memuaskan atau dengan kata lain standar keunggulan yang berhubungan dengan kesempurnaan dalam menyelesaikan tugas
b. Self Related of Excelence, yakni suatu patokan prestasi dibandingkan dengan prestasinya sendiri pada masa sebelumnya;
c. Other Related of Excelence, yakni suatu patokan prestasi dibandingkan dengan prestasi yang dicapai oleh orang lain.
Steers dan Porter (dalam Madina, 1995), menyatakan bahwa motivasi berprestasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang untuk berusaha, dengan tujuan mencapai keberhasilan yang didasarkan pada ukuran keunggulan. Ukuran keunggulan ini dapat dibandingkan dengan prestasi orang lain atau prestasinya sendiri yang pernah dicapai sebelumnya.
Dalam melakukan aktivitas-aktivitas individu dihadapkan pada dua kemungkinan, yaitu berhasil atau gagal. Oleh karena itu perilaku yang berhubungan dengan motivasi berprestasi digambarkan sebagai perilaku yang menampakkan adanya harapan untuk sukses atau sering disebut tendensi untuk menolak.
Individu yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi jika mempunyai tujuan lebih mengharapkan sukses dari pada kegagalan. Oleh karena itu seseorang akan berusaha lebih keras untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan tidak berfikir banyak terhadap kemungkinan gagal. Apabila seseorang berhasil dalam mencapai tujuan, maka orang tersebut akan merasa puas karena hal tersebut atas usahanya, sebaliknya individu yang mempunyai motivasi berprestasi rendah apabila mempunyai tujuan sudah dibayang-bayangi akan adanya kegagalan. Seseorang menganggap bahwa apabila usahanya biasa-biasa saja dan kenyataan sukses, hal tersebut merupakan suatu kebetulan atau keberuntungan dan terima sebagai hal yang wajar. Individu yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi akan merasa marah pada dirinya sendiri dan merasa menyesal apabila prestasi yang dicapai tidak sebaik apa yang diharapkan, karena orang tersebut seharusnya dapat mencapai prestasi yang tinggi kalau dia berusaha lebih keras lagi. Pasaribu (1989) menyatakan bahwa dengan motivasi berprestasi, maka individu yang berkeyakinan dapa mencapai tujuan melalui usaha yang keras adalah individu yang berorientasi untuk sukses dan ini menunjukan adanya moivasi berprestasi yang tinggi pada diri individu tersebut.
Berdasarkan beberapa pengertian tentang motivasi berprestasi yang telah dikemukakan diatas, dapat disimpulkan bahwa motivasi berprestasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai suatu tujuan, yang berupa suatu prestasi atau hasil yang sebaik-baiknya, dengan patokan keunggulan. Keunggulan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keunggulan yang meliputi kesempurnaan dalam menyelesaikan tugas, keunggulan yang didasarkan pada prestasinya sendiri yang pernah dicapai sebelumnya, dan keunggulan yang didasarkan pada prestasi yang didasarkan orang lain.
3. Ciri-ciri Individu yang Memiliki Motivasi Berprestasi Tinggi
Weiner (dalam Suryaningdyah, 2000) menyatakan bahwa individu yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi biasanya menunjukan cirri-ciri tertentu, yaitu :
a. Free Choice, yaitu bahwa individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi menyukai aktivitas-aktivitas yang prestatif dan mengaitkan keberhasialn dengan kemampuan dan usaha yang keras. Individu akan merasa puas dan bangga atas keberhasilannya sehingga akan berusaha lebih keras lagi untuk meningkatkan segala kemungkinan untuk berprestasi.
b. Persistence behavior,yaitu bahwa individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi mempunyai anggapan bahwa kegagalan adalah karena kurang usaha. Oleh karena itu harapan untuk berusaha dan berhasil masih tetap tinggi.
c. Intensif of Performance, yaitu intensitas dalam penampilan kerja, yakni bahwa individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi suka bekerja keras dibandingkan dengan individu yang memiliki motivasi berprestasi rendah
d. Risk Preference, yaitu bahwa individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi mempunyai suatu pertimbangan dalam memilih tugas dengan resiko sedang, yakni tugas yang tidak terlalu mudah juga tidak terlalu sukar.
Martanaiah (dalam Yusniarsyah, 1999) mengemukakan bahwa keberhasilan itu disebabkan adanya usaha, sedangkan kegagalan disebabkan tidak adanya usaha. Sebaliknya, individu yang memiliki motivasi berprestasi rendah menganggap bahwa usaha bukan sebagai suatu yang menentukan prestasi. Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi menganggap penyebab kesuksesan bukan semata-mata karena kemampuan, tetapi lebih disebabkan oleh usaha dan kerja keras. Sebaliknya individu yang memiliki motivasi berprestasi rendah menganggap kegagalan disebabkan kurangnya kemampuan.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa individu yang memiliki motivasi berprestasitinggi cenderung suka berusaha dan bekerja keras, mengantisipasi terhadap kegagalan, usaha untuk mengungguli prestasi yang pernah dicapainyasendiri pada masa sebelumnya, kompetisi untuk mengungguli prestasi yang dicapai orang lain, kesempurnaan dalam menyelesaikan tugas, kepercayaan kepada diri sendiri, dan cenderung memilih tugas dengan resiko sedang.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Berprestasi
Setiap orang mempunyai tingkat motivasi berprestasi yang berbeda-beda. Menurut Krech, Crutchfield, dan Livson (dalam Yusniarsyah, 1999), perbedaan tingkat motivasi berprestasi tersebut dipengaruhi oleh factor pribadi dan factor linkungan.
Horison (dalam Slavin, 1991) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi berprestasi seseorang diantaranya ialah :
a. Kemampuan seseorang termasuk kemampuan intelektual
b. Semua pengalaman masa lalu seseorang yang mempengaruhi kepercayaan diri, motivasi-motivasi dan kemampuannya.
c. Situasi sekolah sebagai hasil dari seluruh interaksi
Cahyono (1996) menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi berprestasi, faktor-faktor tersebut adalah :
a. Kebutuhan-kebutuhan pribadi
b. Tujuan-tujuan dan persepsi-persepsi orang atau kelompok yang bersangkutan
c. Cara dengan apa kebutuhan-kebutuhan serta tujuan-tujuan tersebut akan direalisi.
Suatu penelitian yang dilakukan Haditono (dalam Monks dkk, 1998) di indonesia menemukan bahwa cara orang tua mendidik anak memberikan sumbangan dalam pembentukan motif anak dan prestasi anak. Ia menemukan bahwa stimulasi dari kedua orang tua sangat berperna dalam pembentukan motif berprestasi. Hasil penelitian tersebut menunjukan pentingnya memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan sikap dapat berdiri sendiri, terutama dalam hal apa yang dilakukan dan dihasilkan. Anak harus mendapatkan kesempatan mengalami situasi dimana ia dapat berhasil menguasai suatu standar keunggulan, sehingga ia akan dapat merasa memiliki daya suatu kompetensi yang akan memacu perkembangan motivasi berprestasinya (dalam Yuanita, 1999).
Menurut Heckhaunsen dkk ( dalam Monks, 1998) motivasi berprestasi memiliki cirri-ciri melakukan sesuatu dengan lebih baik disbanding dengan suatu standar keunggulan. Standar keunggulan tadi dapat berhubungan dengan :
a. Prestasi orang tua, individu ingin berbuat lebih baik dari pada apa yang telah diperbuat orang lain.
b. Prestasi diri sendiri yang lampau ; bearti individu ingin menhasilkan lebih baik dari pada apa yang dihasilkannya semula
c. Tugas yang harus dilakukannya ; berarti individu ingin menyelesaikan tugas sebaik mungkin
Widjanto (2000) mengemukakan motivasi berprestasi dalam diri seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor, sebagai berikut :
1) Faktor Internal, yaitu faktor-faktor yang dating dari dalam diri individu itu sendiri, yaitu :
1) Keadaan Fisik, antara lain bentuk wajah, tulang badan, warna kulit, dan sebagainya. Kartikawati (dalam Widjanto, 2000) menyebutkan cacat fisik yang dimiliki individu akan dapat menghambat dirinya untuk mempunyaimotivasi berprestasi yang tinggi.
2) Jenis Kelamin, Jung (dalam Widjanto, 2000) menyebutkan faktor jenis kelamin mempengaruhi motivasi berprestasi. Adanya kecenderungan pada perempuan untuk menghindari sukses merupakan faktor yang melatar belakangi rendahnya motivasi pada perempuan.
3) Usia, Neurgaten (dalam widjanto, 2000) mengatakan bahwa kesadaran akan umur yang semakin bertambah menjadi suatu pendorong seseorang untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi.
4) Intelegensi, Pletrotfesa dan Spelete (dalam Widjanto, 2000) mengatakan intelegensi mempengaruhi motivasi berprestasi seseorang. Semakin tinggi intelegensi akan semakin tinggi pula motivasi berprestasinya. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa individu yang akan intelegensinya tidak terlalu tinggi tetapi memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, hal ini karena disamping faktor intelegensi masih banyak faktor lainnya yang turut mempengaruhi motivasi berprestasi
5) Kepribadian, Monks dkk (1990) mengungkapkan bahwa motivasi berprestasi merupakan salah satu aspek kepribadian seseorang yang paling banyak diteliti
6) Minat, menurut Setiawan (dalam Widjanto, 2000) Individu yang mempunyai minat untuk belajar adalah individu yang mampu berkompetisi dan tidak mengharapkan kegagalan akan mempengaruhi motivasi berprestasinya
7) Citra Diri, Ratnawati dan Sinambela (dalam Widjanto,2000) mengatakan bahwa seseorang yang mempunyai citra diri yang positif akan tampak percaya diri, aktif dan berani dalam menghadapi sesuatu, dengan didukung rasa percaya diri yang tinggi individu akan lebih termotivasi lagi dalam berprestasi
8) Keberhasilan yang pernah dicapai, Greene (dalam Widjanto, 2000) mengatakan bahwa kebersihan yang didapat dalam mencapai sesuatu tujuan yang telah direncanakan memiliki arti bahwa individu yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi
9) Tingkat Pendidikan, menurut Hurlock (1990), menyatakan bahwa pendidikan orang tua yang tinggi, berdsarkan pengalaman-pengalaman dan pendidikan yang diperolehnya akan mempunyai pengertian-pengertian yang lebih luas mengenai faktor yang penting bagi perkembangan dan kemajuan anak
2) Faktor Eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu itu sendiri, yaitu :
1. Lingkungan keluarga, Winter Bottom (dalam Widjanto, 2000) mengemukakan terbentuknya motivasi berprestasi bersumber dari cara-cara orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak. Orang tua yang mendidikanaknya untuk berusaha menentukan sendiri apa yang sebaiknya dilakukan dan mampu mengerjakan tugas-tugasnya tnpa bantuan orang lain, disertai dengan sikap orang tua yang selalu menghargai setiap prestasi yang telah dicapai anak, sehingga akan menumbuhkan motivasi berprestasi yang tinggi pada anak.
2. Lingkungan Masyarakat, Mc Clellend (dalam Widjanto, 2000) mengatakan motivasi berprestasi merupakan bagian dari ajaran agama, artinya agama juga mengajarkan bahwa seseorang harus memiliki motivasi dalam hidupnya. Orang tua umum mengasuh anak-anaknya sesuai dengan pola asuh yang disesuaikan dengan adat istiadat dan pola hidup yang dianut dilingkungannya
3. Lingkungan Sekolah, Dimyati (1999) mengatakan kondisi lingkungan sekolah yang indah dan pergaulan siswa yang sehat akan memperkuat motivasi siswa untuk berprestasi disekolahnya
4. Social Ekonomi. Presto (dalam Widjanto, 2000) mengatakan dari hasil penelitian diketemukan bahwa prestasi anak-anak dari keluarga yang rendah status ekonominya pada akhirnya kelas pertama lebih tinggi dari pada prestasi anak-anak yang berasal dari keluarga yang status ekonominya mencukupi, karena rupannya anak-anak yang berasal dari social ekonomi rendah lebih cepat menyesuaikan dirinya dengan tugas pekerjaan yang baru.
Anak-anak yang berasal dari social ekonomi yang tinggi, biasanya kurang cepat menyesuaikan diri dengan tugas atau pekerjaan yang baru, karena mereka telah terbiasa dengan sesuatu yang instan. Mereka dapat dengan mudah mencapai tujuan yang mereka harapkan tanpa harus bekerja keras, sehingga mereka kurang termotivasi dalam mencapai tujuan. Sebailiknya anak yang berasal dari social ekonomi yang renah lebih cepat beradaptasi dengan tugas atau pekerjaan baru yang lebih sulit, karena mereka telah terbiasa untuk hidup mandiri, dan dalam mencapai tujuan mereka harus bekerja keras agar hasil yang dicapai maksimal, sehingga mereka akan lebih ternotivasi.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi berprestasi dalam diri seseorang dipengaruhi oleh dua faktor yang berasal dari dalam diri individu dan faktor yang berasal dari luar diri individu, kedua faktor ini saling berhubungan satu sama lain dalam pembentukan motivasi berprestasi dalam diri seseorang.

5. Hubungan Antara Orang Tua dan Anak
Orang tua membesarkan anak-anaknya dengan maksud agar bila mereka tua nanti anak mampu hidup mandiri dan meningalkan orang tuanya. Orang tua merasakan bahwa mereka bertanggung jawab dalam hal memperhatikan dan melindungi anak sampai anak mampu untuk hidup mandiri. Di pihak lain, anak-anak membutuhkan orang tuanya namun mereka juga ingin tumbuh dewasa, ingin lebih banyak kebebasan, serta hidup mandiri. Masalah yang timbul dari kedua pihak adalah : kapan dan seberapa jauh mereka harus saling menahan, dan kapan saat yang tepat untuk saling member kebebasan. Hal ini dapat menjadikan konflik yang serius pada saat anak berusia belasan (Bell dan Mc Gee, 1980).
Masalah-masalah yang kerap kali timbul dalam kehidupan remaja sering menimbulkan berbagai tantangan para orang dewasa, dan pada masa ini remaja justru sedang merenggangkan diri dari orang tuanya, sehingga bimbingan dan uluran tangan orang tua sering ditolak remaja. Mereka juga banyak melakukan kritik dan berbeda pendapat dengan oran tuannya (Gunarso dalam Hendriyani, 2000).
Dari pihak orang tua, mereka mengalami penurunan kepuasan yang drastic pada saat anak-anak tumbuh semakin besar, dan kepuasan ini akan terus menurun pada waktu anak-anaknya mencapai usia belasan, disaat mereka mulai ingin meninggalkan rumah dan orang tua juga akan merasa kecewa dan marah besar bila anak-anaknya gagal dalam meningkatkan dan mengembangkan apa yang dicita-ctakan oleh orang tunya, karena pada masa ini orang tua mempunyai cita-cita yang tinggi tentang anak-anaknya dan hal ini akan menimbulkan kepuasan apbila yang dicita-citakan dapat tercapai (Hurlock, 1990).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan hal yang penting dalam hubungan orang tua dan anak. Anak yang telah remaja biasanya mempunyai pendapat sendiri, sehingga kadang-kadang tidak terlalu setuju dengan aturan orang tuanya. Hal ini dapat menimbulkan konflik yang dapat mengganggu hubungan antar orang tua dan anak, dengan demikian komunikasi yang baik antar orang tua dan anak, maka akan tercipta hubungan yang baik pula.

C. Tingkat Pendidikan Orang Tua
1. Masa Usia Tengah Baya (Middle Adulthood)
Sebagian besar orang tua yang telah mencapai usia tengah baya (kurang lebih 35 sampai 45 tahun) telah mempunyai anak-anak remaja, dan anggota keluarganya terdiri dari suami, isteri, dan anak-anak yang hidup dan tumbuh saling berhubungan satu dengan yang lain. Masing-masing mempunyai tugas sebagai anggota keluarga : laki-laki dalam keluarga mempunyai tugas sebagai seorang pria dan suami, pemberi nafkah, dan sebagai seorang ayah. Sedangkan wanita dalam keluarga mempunyai tugas sebagai seorang wanita, isteri, dan pengurus keluarga, serta seorang ibu, dan anak remaja dalam keluarga adalah sebagai seorang individu dan sebagai anggota keluarga (Havigghurst dalam Hendriyani, 2000).
Sebagai manusia, orang tua pun tidak berhenti tumbuh dan berkembang. Mereka juga mengalami perubahan dari tahun ke tahun seperti halnya anak-anak. Salah satu masa yang dialami orang sewasa adalah masa krisis usia tengah baya (mid-life crisis), saat dimana orang dewasa ingin melakukan hal-hal yang selalu diinginkannya sebelum terlambat (Bell dan Gee dalam Muslimin 2004). Krisis ini terjadi antara akhir tiga puluhan dan awal empat puluhan, pada saat anak-anak mereka berusia belasan tahun (Hurlock, 1990). Pada saat ini timbul perasaan terjebak dan sia-sia yang sangat mengganggu terutama pada ibu rumah tangga, karena anak-anak telah remaja, rumah kosong sejak jam 08.00 sampai 16.00, dan kerut wajah mulai tampak pada usia empat puluhan. (Rathus dalam Kiranawati 1992). Mereka akan mengalami sidrom empty-nest karena merasa tidak berarti lagi pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah karena kuliah, menikah, atau tinggal ditempat lain.
Erikhson (dalam Kiranawati, 1992) menandai krisis kehidupan pada tahun-tahun pertengahan dengan generativity vs stagnation : orang dewasa madya mempunyai tugas perkembangan membimbing dan memajukan generasi yang lebih muda. Bila individu melampaui krisis ini dengan positif maka dia akan mempertahankan atau meningkatkan kreativitasnya, merangkum nilai-nilai keluargannya, serta membatu membentuk generasi muda.
Dari uraian diatas dapat disimpulakan bahwa pada tengah baya manusia mengalami krisis yang disebut mid-life crisis. Krisis ini dialami setiap individu pada usia antara tiga puluhan awal empat puluhan, tetapi bila masa ini dapat dilalui secara positif maka individu akan dapat melaksankan tugas-tugas perkembangannya dengan baik.

2. Tingkat Pendidikan Orang Tua
Dalam system pendidikan dikenal tiga pilar pendidikan, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Hal ini berarti tanggung jawab pendidikan anak tidak bisa hanya diserahkan kepada sekolah saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat. Keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama bagi anak berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, baik ketika anak masih kecil maupun ketika sudah dewasa kelak. Besarnya pengaruh keluarga ini disebabkan karena hamper sebagian besar waktu anak dihabiskan didalam keluarga. Namun begitu bagaimana pengaruh keluarga terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh latar belakang keluarga.
Menurut Johnstone dan Jiyono (Ilmoe, 1993) Unsur-unsur dari latar belakang keluarga dapat dipisahkan menjadi tiga bagian, yaitu : dimensi stuktural, dimensi proses dan dimensi aspirasi. Dimensi stuktural dari latar belakang keluarga lebih dikenal dengan status social ekonomi, didalamnya tercakup unsur-unsur : pendidikan orang tua, pekerjaan, jabatan, penghasilan orang tua dan pemilikan barang-barang berharga. Dimensi proses mencakup aktivitas yang dilakukan anak dan orang tua dalam hubungan dengan belajar anak, seperti kegiatan belajar anak dirumah dan sejenisnya. Dimensi aspirasi atau dimensi sikap terdiri dari sikap orang tua terhadap pendidikan dan pekerjaan anak-anaknya dimasa yang akan dating.
Ketiga unsure atau dimensi latar belakang keluarga diatas sebenarnya saling kait-mengaitkan atau saling mempengaruhi satu sama lain. Namun begitu, unsur-unsur dari latar belakang keluarga yang menjadi perhatian dalam penelitian ini lebih dikhususkan pada salah satu unsur dari dimensi structural (status sosial ekonomi), yaitu tingkat pendidikan orang tua. Haditono (dalam Hendriyani 2000) menjelaskan bahwa yang dimaksud tingkat pendidikan orang tua adalah tingkat pendidikan sekolah (formal) yang pernah ditempuhnya.
Menurut Adayani (2000) pendidikan dapat mempengaruhi semua aspek kehidupan, baik pikirannya, perasaan, sikap dan perilakunya. Demikian semakin tinggi tingkat pendidikan semakin luas pengetahuan dan pengalamannya. Kaitannya dengan pola asuh orang tua, Haditono (Kiranawati, 1992) menjelaskan bahwa pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki orang tua akan sangat mempengaruhi sikap dan perilakunya dalam mengasuh anak. Semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua makin baik cara mengasuh. Sedangkan Hurlock (1990) menyatakan bahwa dengan pendidikan yang diperolehnya,orang tua akan mempunyai pengertian-pengertianyang lebih luas mengenai faktor yang penting bagi perkembangan dan kemajuan anak. Disamping itu, orang tua juga akan cenderung memberikan kesempatan-kesempatan yang diperlukan anak, missal kesempatan untuk belajar.
Margolin (dalam Muslimin, 2004) menyatakan bahwa pendidikan orang tua akan mempengaruhi didalam sikapnya terhadap anak-anaknya. Sikap yang Nampak adalah sikap terbuka, fleksibel, rasa ingin tahu yang ditunjukan pada dinamika social, sehingga hal ini akan mempengaruhi interaksi yang terjadi antara anak dan orang tua, yang man aide orang tua tentang pengembangan dirinya dialihkan pada anak-anaknya dengan berbagai cara. Selain itu, menurut Saleh (1993), orang tua yang tingkat pendidikannya tinggi akan memiliki bekal-bekal teori pendidikan, sehingga mereka akan dapat mendidik lebih baik dari pada orang tua yang tingkat pendidikannya rendah.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan yang memiliki orang tua sangat berpengaruh pada bagaimana cara orang tua mendidik anak-anaknya. Semakin tinggi pendidikan orang tua, semaikin baik pula cara mendidik dan mengasuh anaknya. Dengan pola asuh yang baik dari orang tua, maka kemungkinan besar anak akan berkembang kearah yang lebih baik.
Tingkat pendidikan yang dimaksud adalah masa pendidikan formal yang pernah ditempuha oleh orang tua, dimulai dari tidak sekolah samapai S3.

D. Hubungan antara Motivasi Berprestasi dan Tingkat Pendidikan Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar
Motivasi berprestasi adalah motif yang berhubungan dengan prestasi. Motivasi berprestasi ini mempunyai peranan dalam prestasi seseorang, seperti yang dikemukakan oleh Hurlock (1990) bahwa motivasi berprestasi diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Motivasi berprestasi ini akan mendorong seseorang untuk mengatasi rintangan dalam mencapai hasil yang lebih baik dari hasil sebelumnya, juga akan mendorong seseorang untuk bersaing dengan sehat.
Orang tua mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan motivasi berprestasi anak (Winterbottom dalam muslimin, 2004). Remaja awal, lebih berorientasi kepada teman sebaya dari pada keluarga. Namun demikian, remaja masih tetap membutuhkan kasih sayang, perhatian serta pengertian dari orang tua (Haditono, 1979). Orang tua harus memahami keadaan remaja, sehingga pengasuhan yang dilakukan terhadap remaja tepat.
Selain itu tingkat pendidikan orang tua juga sangat mempengaruhi bagaimana cara orang tua mendidik anak, orang tua yang berpendidikan tinggi tentu mempunyai banyak pengalaman bagaimana cara memberikan pendidikan kepada anak dengan tepat sehingga memberikan motivasi yang tepat pula.
Selanjutnya dilanjutkan diharapkan remaja akan memiliki harga yang tinggi, percaya kepada diri sendiri, mandiri dan optimis dalam menghadapi persoalan sehingga akan meningkatkan motivasi remaja untuk berprestasi (Ancok, 1993)
Tingkat pendidikan orang tua adalah masa pendidikan yang pernah ditempuh oleh orang tua. Semakin tinggi pendidikan orang tua tentu tentu semakin banyak pengetahuan dan pengalamannya, ini sangat mempengaruhi cara orang tua dalam mendidik dan membimbing anaknya. Dengan komunikasi yang baik antara anak dan orang tua akan tercipta hubungan yang baik pula, dengan demikian orang tua akan lebih mudah dalam mengarahkan anak-anaknya dalam segala hal sehingga anak akan lebih termotivasi lagi dalam mencapai prestasi belajar, sesuai yang diharapkan orang tua.


E. Hipotesis
Berdasarkan uraian dalam tinjauan pustaka dan beberapa teori yang dikemukakan maka hipotesis yang diajukan adalah : “ Ada Hubungan yang Positif antara Motivasi Berprestasi dan Tingkat Pendidikan Orang Tua dengan Prestasi Belajar pada Remaja”, semakin tinggi motivasi berprestasi dan semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua maka semakin tinggi prestasi belajarnya, sebaliknya semaikin rendah dari orang tua dan semakin rendah tingkat pendidikan orang tua maka semakin redah pula prestasi belajarnya. 




password rar : smiledotcrew
download lengkap